Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Kemarau Hampir 4 Bulan, Harga Beras di Dekai Tembus Rp50 Ribu per Kilogram

YAHUKIMO, OLEMAH.COM — Musim kemarau yang disebut telah berlangsung hampir empat bulan mulai berdampak serius terhadap ketersediaan bahan pangan di Dekai, Kabupaten Yahukimo. Stok beras di sejumlah kios dan toko dilaporkan menipis bahkan habis, sementara harga beras yang masih tersedia melonjak hingga Rp50.000 per kilogram.

Kondisi tersebut membuat masyarakat harus membeli beras dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Harga beras yang semula sekitar Rp25.000 per kilogram kini disebut telah mencapai Rp50.000 per kilogram atau meningkat sekitar dua kali lipat.

Stok Beras Habis, Pasokan Harus Didatangkan dari Jayapura

Salah seorang pedagang di Yahukimo, Noken Wene Com, mengatakan beras yang dijual dengan harga Rp50.000 per kilogram tersebut mengalami kenaikan karena persediaan di Dekai telah habis.

Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, beras harus didatangkan dari Jayapura. Kondisi jalur distribusi yang semakin sulit membuat pasokan perlu dikirim melalui jalur udara.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena selama ini Kabupaten Yahukimo mengandalkan dua jalur utama untuk distribusi barang, yakni jalur udara dan jalur sungai/laut.

Sementara jalur sungai mengalami hambatan akibat Sungai Brasa yang mengering, sehingga kapal maupun perahu pengangkut bahan kebutuhan pokok sulit masuk ke Dekai.

Warga Terpaksa Membeli Beras Mahal

Salah seorang warga, Sarman Iksomom, membenarkan kenaikan harga beras tersebut.

Ia mengatakan masyarakat tidak memiliki banyak pilihan ketika persediaan beras habis. Meskipun harga sangat mahal, masyarakat tetap harus membeli karena beras merupakan salah satu kebutuhan pangan keluarga.

“Betul kami beli Rp50 ribu per kilo. Kami mau bagaimana lagi kalau tidak beli beras? Akhirnya terpaksa harus beli biarpun harga mahal,” ujar Sarman.

Menurutnya, masyarakat di kampung sebenarnya masih dapat mengandalkan makanan lokal seperti ubi, keladi dan singkong. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak mudah bagi keluarga yang memiliki anak-anak kecil.

“Kami orang dewasa bisa makan ubi, keladi dan singkong, namun anak-anak kecil ini sulit sekali. Karena mereka makan tapi tidak terlalu, sehingga kami orang tua khawatir dan akhirnya kami beli biarpun mahal,” katanya.

Warga Minta Pemerintah Segera Ambil Langkah

Sarman meminta Pemerintah Kabupaten Yahukimo segera mengambil langkah untuk memastikan pasokan beras tetap tersedia.

Menurutnya, ketika jalur sungai tidak dapat digunakan akibat kekeringan, pemerintah perlu memperkuat distribusi melalui jalur udara sebelum stok pangan benar-benar habis.

“Di Yahukimo ini ada dua jalur, udara dan laut. Ketika lewat laut atau Sungai Brasa sudah kering, lebih baik pemerintah ambil langkah cepat untuk lewat udara karena nanti di Yahukimo banyak masalah ketika beras habis,” ungkapnya.

Harga Beras Kemasan Ikut Melonjak

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada beras eceran. Harga beras berdasarkan ukuran kemasan juga disebut mengalami peningkatan.

Data harga yang disampaikan masyarakat di Dekai antara lain:

1. Beras 50 kilogram: dari sekitar Rp900.000 menjadi Rp1.500.000

2. Beras 20 kilogram: dari sekitar Rp450.000 menjadi Rp1.000.000

3. Beras 10 kilogram: dari sekitar Rp250.000 menjadi Rp500.000

4. Beras eceran: dari sekitar Rp25.000 menjadi Rp50.000 per kilogram

Masyarakat juga mengkhawatirkan kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok lainnya karena persediaan di sejumlah toko mulai menipis.

Menurut keterangan yang disampaikan, salah satu faktor yang memengaruhi harga adalah biaya pengiriman barang dari Jayapura menuju Dekai yang disebut mencapai sekitar Rp18.000 per kilogram.

Kekeringan Sungai Brasa Hambat Distribusi

Kondisi Sungai Brasa yang mengering menjadi salah satu persoalan utama dalam distribusi barang menuju Dekai.

Selama ini, jalur sungai menjadi salah satu jalur penting untuk membawa BBM, beras dan berbagai kebutuhan masyarakat. Ketika debit air menurun, kapal dan perahu pengangkut barang mengalami kesulitan untuk masuk dan keluar wilayah.

Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang waktu distribusi sekaligus meningkatkan biaya transportasi yang kemudian berdampak pada harga barang di tingkat konsumen.

Warga Khawatir Dampak Sosial Meningkat

Masyarakat juga mengkhawatirkan dampak sosial apabila kondisi pangan semakin sulit dan harga kebutuhan pokok terus meningkat.

Terutama keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas yang memiliki anak-anak dan tidak mempunyai cukup pendapatan untuk membeli bahan pangan dengan harga tinggi.

Warga berharap pemerintah segera melakukan langkah antisipasi agar persoalan kekurangan pangan tidak berkembang menjadi masalah sosial yang lebih luas.

OLEMAH.COM mencatat bahwa kekhawatiran mengenai meningkatnya pencurian merupakan pandangan/keprihatinan yang disampaikan warga, bukan laporan bahwa tindakan tersebut telah meningkat.

Anak-anak Juga Perlu Mendapat Perhatian

Selain persoalan pangan, masyarakat mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan anak-anak selama musim kemarau.

Kondisi air yang terbatas membuat masyarakat perlu memperhatikan kebersihan air yang digunakan untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari.

Dalam cuaca panas, salah satu gangguan kulit yang dapat muncul adalah biang keringat (miliaria). Kondisi ini dapat terjadi ketika saluran keringat tersumbat dan menimbulkan bintik-bintik kecil yang dapat disertai rasa gatal, perih atau sensasi menyengat.

Bagian tubuh yang sering mengalami biang keringat antara lain dahi, leher, dada, punggung serta bagian tubuh yang tertutup pakaian dan mudah berkeringat.

Masyarakat diimbau memperhatikan kebersihan air dan kondisi kesehatan anak selama musim kemarau.

Waspada Kebakaran Hutan dan Rumah

Kemarau panjang juga meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi kebakaran hutan, kebun dan rumah di Dekai maupun distrik-distrik lainnya di Kabupaten Yahukimo.

Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan menjaga lingkungan serta rumah masing-masing.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena apabila terjadi musibah di distrik yang jauh dari Dekai, penanganan dapat menghadapi kendala akibat keterbatasan akses transportasi, termasuk penerbangan pesawat kecil menuju sejumlah distrik.

Karena itu, masyarakat meminta pemerintah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai dampak kemarau, mulai dari ketahanan pangan, distribusi bahan pokok, ketersediaan air, kesehatan masyarakat hingga pencegahan kebakaran.

Pemerintah Diminta Bergerak Sebelum Krisis Membesar

Kenaikan harga beras hingga Rp50.000 per kilogram menjadi tanda bahwa dampak kemarau mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Yahukimo segera memastikan pasokan beras dan kebutuhan pokok lainnya tetap tersedia, terutama bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Masyarakat juga meminta agar jalur distribusi alternatif melalui udara dapat dipersiapkan ketika jalur sungai tidak lagi memungkinkan.

Kemarau bukan hanya persoalan tidak turunnya hujan. Di Yahukimo, kondisi tersebut juga menyangkut pangan, transportasi, harga kebutuhan pokok, kesehatan, lingkungan dan keselamatan masyarakat.


Sumber : Natan Sama

Editor : Redaksi Olemah

Website : www.olemah.com

Diterbitkan : 26-Agustus 2026

Posting Komentar

0 Komentar