Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Harga BBM Eceran di Yahukimo Tembus Rp100 Ribu per Liter, HIPMI Desak Perda Pengendalian Harga dan Solusi Distribusi

YAHUKIMO, OLEMAH.COM – Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, dalam beberapa hari terakhir memicu keresahan masyarakat. Harga BBM yang sebelumnya relatif stabil kini melonjak tajam hingga mencapai Rp50.000 sampai Rp100.000 per liter di tingkat pengecer, sehingga berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, transportasi, dan harga kebutuhan pokok.

Menanggapi kondisi tersebut, Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Yahukimo langsung melakukan penelusuran dan koordinasi dengan pengelola SPBU guna mencari penyebab utama kelangkaan pasokan BBM yang terjadi di wilayah Dekai.

HIPMI Temui Pengelola SPBU

Ketua BPC HIPMI Kabupaten Yahukimo, Ali Giban, S.Sos., melakukan pertemuan dengan pihak pengelola SPBU yang beroperasi di Dekai pada Kamis (2/7/2026).

Dalam pertemuan yang berlangsung di kawasan SPBU Paradiso tersebut, pihak manajemen SPBU menjelaskan bahwa keterlambatan pasokan BBM bukan disebabkan oleh berkurangnya kuota, melainkan karena hambatan distribusi melalui jalur sungai.

Perwakilan manajemen SPBU Yahukimo, Ismael, mengatakan distribusi BBM ke Yahukimo saat ini menghadapi dua kendala utama, yakni faktor cuaca dan terbatasnya armada kapal pengangkut.

"Kendala utama saat ini adalah faktor cuaca. Kapal yang mengangkut BBM menuju Yahukimo tinggal satu unit karena satu kapal lainnya masih menjalani perbaikan di Timika," jelas Ismael.

Menurutnya, distribusi BBM menuju Yahukimo sangat bergantung pada kondisi sungai.

"Kalau debit air sungai turun atau mengalami kekeringan, kapal tidak dapat melanjutkan perjalanan. Kami harus menunggu hujan agar permukaan air naik kembali sehingga kapal bisa berlayar menuju Dekai," ujarnya.

Pasokan BBM Masih Tertahan

Untuk memastikan kondisi distribusi di lapangan, Ketua HIPMI juga melakukan koordinasi dengan Koordinator Lapangan SPBU Kabupaten Yahukimo, Deky Rumpaison.

Deky menjelaskan bahwa kuota BBM untuk Kabupaten Yahukimo sebenarnya dalam kondisi mencukupi.

Menurutnya, pada bulan ini telah dialokasikan sekitar 280 ton BBM untuk memenuhi kebutuhan dua SPBU di Kabupaten Yahukimo.

SPBU Paradiso melayani kendaraan roda empat, sedangkan SPBU Pasar Baru melayani kendaraan roda dua.

Namun hingga saat ini distribusi belum dapat dilakukan karena kapal pengangkut masih tertahan di wilayah Suator akibat kondisi sungai yang surut.

"Begitu air sungai naik, kapal akan langsung berlayar menuju Yahukimo. Waktu tempuhnya sekitar tiga hari. Tetapi apabila dalam perjalanan air kembali surut, kapal harus berhenti lagi hingga kondisi memungkinkan," terang Deky.

Ia optimistis pasokan akan segera tiba apabila kondisi cuaca kembali normal.

Harga BBM Eceran Memukul Ekonomi Masyarakat

Kelangkaan pasokan menyebabkan harga BBM eceran melonjak tajam di berbagai titik penjualan.

Kondisi tersebut mulai dirasakan oleh masyarakat, pengemudi kendaraan, pelaku usaha kecil, hingga sektor transportasi yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar.

HIPMI menilai apabila situasi ini terus berlangsung, maka bukan hanya harga BBM yang meningkat, tetapi juga akan memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok, biaya transportasi, serta memperlambat aktivitas ekonomi masyarakat.

HIPMI Desak Pemerintah Terbitkan Perda Harga BBM Eceran

Melihat kondisi tersebut, Ketua HIPMI Yahukimo Ali Giban mendesak Pemerintah Kabupaten Yahukimo bersama DPRK agar segera menyusun Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur mekanisme penjualan BBM eceran.

Menurutnya, regulasi tersebut diperlukan agar harga BBM di tingkat pengecer memiliki batas yang jelas sehingga tidak merugikan masyarakat.

"Perda ini sangat penting agar penjualan BBM eceran memiliki kepastian hukum. Jangan sampai ketika pasokan terlambat, harga langsung naik tanpa batas dan masyarakat menjadi korban," tegas Ali Giban.

Ia menilai regulasi tersebut sekaligus menjadi instrumen pengawasan pemerintah terhadap praktik penjualan BBM eceran yang memanfaatkan situasi kelangkaan.

Selain mendorong pembentukan Perda, HIPMI juga meminta pemerintah bersama pihak terkait mencari solusi jangka panjang terhadap distribusi BBM menuju Yahukimo.

Menurutnya, percepatan perbaikan kapal pengangkut maupun penambahan armada distribusi harus menjadi perhatian serius agar kejadian serupa tidak terus berulang.

HIPMI: Masyarakat Kecil Jangan Terus Menjadi Korban

Ali Giban menegaskan bahwa lonjakan harga BBM bukan hanya persoalan energi, tetapi juga menyangkut stabilitas ekonomi masyarakat.

Ia berharap pemerintah daerah, DPRK, Pertamina, dan seluruh pemangku kepentingan segera duduk bersama mencari solusi terbaik agar distribusi BBM kembali normal dan harga di tingkat masyarakat dapat dikendalikan.

"Kalau tidak segera ditangani, masyarakat kecil yang paling merasakan dampaknya. Harga barang akan naik, biaya transportasi meningkat, dan ekonomi masyarakat semakin berat. Karena itu kami berharap regulasi pengendalian harga serta solusi distribusi BBM segera diwujudkan," pungkasnya.

Dengan adanya langkah cepat dari pemerintah dan seluruh pihak terkait, masyarakat Yahukimo berharap pasokan BBM segera kembali normal sehingga aktivitas ekonomi dapat berjalan lancar dan harga kebutuhan pokok tetap terkendali.


Sumber : Marinus Heluka

Editor : Redaksi Olemah

Website : www.olemah.com

Diterbitkan : 02-Juli 2026

Posting Komentar

0 Komentar