Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Budaya Baca dan Literasi yang berlangsung di Wamena pada 30 September hingga 1 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dari SMA/SMK se-Kota Wamena, SMP se-Kota Wamena, serta kelompok pegiat literasi. Sebanyak 27 kelompok pegiat tercatat hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai.
Kehadiran para pelajar dan pegiat literasi menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat gerakan membaca di tengah masyarakat. Kegiatan tidak hanya diarahkan kepada tenaga perpustakaan, tetapi juga menyentuh langsung generasi muda sebagai kelompok yang memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi.
Anthony Mirin: Jangan Tinggalkan Buku
Anthony Mirin, S.Sos., M.Si., selaku Plt. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Papua Pegunungan, menekankan pentingnya masyarakat tetap menjadikan buku sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Kita harus membaca buku. Kalau tidak membaca buku, suatu saat kita seperti robot,” pesan Anthony dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia meninggalkan kebiasaan membaca. Buku tetap menjadi salah satu sumber penting untuk membangun pengetahuan, memperluas wawasan dan melatih kemampuan berpikir.
Membaca juga bukan hanya tentang mengetahui isi sebuah buku. Lebih dari itu, membaca melatih seseorang untuk memahami persoalan, mengembangkan gagasan, melihat berbagai sudut pandang dan menghasilkan pemikiran baru.
Budaya Baca Membentuk Generasi
Kebiasaan membaca sejak usia sekolah dapat memberikan dasar bagi generasi muda untuk mengembangkan berbagai kemampuan.
Dalam materi kegiatan, membaca dikaitkan dengan kemampuan seseorang untuk berkembang sebagai penulis, perencana, peneliti, pemikir, konseptor, desainer, instruktur, pelatih hingga pembicara.
Karena itu, budaya baca tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau perpustakaan. Keluarga, guru, pemerintah, komunitas dan masyarakat juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendorong anak-anak dan generasi muda untuk gemar membaca.
Pelajar SMA, SMK dan SMP Ikut Terlibat
Keterlibatan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan sosialisasi tersebut.
Peserta berasal dari SMA/SMK se-Wamena dan SMP se-Wamena, bersama kelompok-kelompok pegiat literasi. Para peserta mengikuti kegiatan sampai selesai dan mendapatkan materi mengenai pentingnya membaca, literasi serta pemanfaatan sumber pengetahuan secara bijak.
Berdasarkan data satuan pendidikan Kemendikdasmen untuk Kecamatan Wamena, sejumlah sekolah jenjang SMA yang terdata antara lain:
1. SMAN 1 Wamena
2. SMA Anugerah Gloria Terpadu
3. SMAS PGRI Wamena
4. SMAS YPK Betlehem
5. SMAS YPPGI Wamena
6. SMAS YPPK Santo Thomas Wamena
7. SMA Yapesli 1 Wamena
8. Sementara pada jenjang SMK terdapat antara lain:
9. SMKS YSO Ninabua Teknologi dan Rekayasa Wamena
10. SMKS YAPESLI Pariwisata Wamena
11. SMKS YAPIS Sidratul Munthaha Bisnis Manajemen Wamena
12. SMKS YASORES Agrobisnis dan Agroteknologi Wamena
13. SMKS YPPGI Energi dan Pertambangan Wamena
14. SMKS TIRANUS Wamena
15. SMKS YAPIS AR. Djumati Bakti Kesehatan Wamena
16. SMK Kesehatan Elisa Gobai
Data resmi Kemendikdasmen mencatat sekolah-sekolah tersebut berada dalam wilayah administratif Kecamatan Wamena, dengan beberapa sekolah beralamat di Wamena Kota, Honelama Dua, Sinakma, Sinapuk dan wilayah lain dalam Kecamatan Wamena.
Untuk jenjang SMP, sekolah yang terdata di Kecamatan Wamena antara lain:
1. SMP Negeri 1 Wamena
2.SMP Negeri 2 Wamena
3. SMP Advent Wamena
4. SMP Anugerah Gloria Terpadu
5. SMP Koinonia Wamena
6. SMP Kristen Duma
7. SMP Mitra Misi Baptis
8. SMP Nurul Haq YAPIS Wamena
9. SMP PGRI Wamena
10. SMP Tiranus Wamena
11. SMP YAKPESMI Wamena
12. SMP YAPESLI Wamena
13. SMP YASORES Wamena
14. SMP YPK Betlehem Wamena
15. SMP YPPGI Anigou Wamena
16. SMP YPPK Santo Thomas Wamena
Daftar tersebut berdasarkan data satuan pendidikan resmi Kemendikdasmen untuk Kecamatan Wamena.
Perpustakaan sebagai Ruang Belajar Masyarakat
Dalam penguatan budaya literasi, perpustakaan memiliki posisi strategis. Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar, berdiskusi, mencari informasi dan mengembangkan kemampuan masyarakat.
Bagi pelajar, perpustakaan dapat menjadi tempat untuk memperdalam pelajaran di luar ruang kelas. Bagi masyarakat, perpustakaan dapat menjadi sumber pengetahuan yang membantu meningkatkan kemampuan dan wawasan.
Karena itu, keberadaan perpustakaan yang aktif dan dekat dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun budaya baca.
27 Kelompok Pegiat Ikuti Kegiatan hingga Selesai
Selain pelajar dari berbagai sekolah, keterlibatan 27 kelompok pegiat menjadi kekuatan tersendiri dalam kegiatan tersebut.
Kelompok pegiat diharapkan dapat menjadi bagian dari gerakan literasi di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi dapat ikut menyebarkan kebiasaan membaca di lingkungan masing-masing.
Dengan keterlibatan sekolah dan kelompok masyarakat, gerakan literasi diharapkan tidak berhenti di tempat kegiatan, tetapi dapat diteruskan dalam kehidupan sehari-hari.
Teknologi Tidak Menggantikan Budaya Membaca
Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga menjadi bagian dari materi kegiatan. AI dapat membantu manusia mencari dan mengolah informasi, menganalisis data, membantu menulis dan merangkum, menerjemahkan bahasa serta mendukung pendidikan.
Namun, penggunaan teknologi perlu tetap diimbangi dengan kemampuan membaca dan berpikir kritis. Materi kegiatan juga mengingatkan risiko ketergantungan terhadap AI, berkurangnya kemampuan membaca, melemahnya kemampuan menulis dan kreativitas apabila teknologi digunakan secara berlebihan.
Karena itu, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, tetapi budaya membaca tetap harus menjadi dasar dalam membangun pengetahuan manusia.
Membangun Generasi Papua Pegunungan yang Gemar Membaca
Penguatan budaya baca membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pemerintah, sekolah, guru, orang tua, pustakawan, pegiat literasi dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi.
Membaca dapat membuka wawasan, memperkaya pengetahuan dan melatih kemampuan seseorang untuk berpikir sebelum mengambil keputusan.
Melalui kegiatan Sosialisasi Budaya Baca dan Literasi tersebut, diharapkan semakin banyak pelajar dan masyarakat Papua Pegunungan menjadikan buku sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sebab, membangun budaya membaca berarti ikut membangun generasi yang berpengetahuan, mampu berpikir kritis, kreatif dan siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan kemampuan berpikir secara mandiri.
Sumber : Kaki Abu
EditOr : Redaksi Olemah.com
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 30 September 2026

0 Komentar