Rombongan pimpinan daerah tersebut mendatangi dua lokasi berbeda, yakni kelompok masyarakat Suku Yali di Maplima dan Suku Lani di Sinakma, Kabupaten Jayawijaya. Langkah ini diambil untuk meredam ketegangan pasca bentrokan antarwarga yang dipicu belum tuntasnya penyelesaian adat atas kasus pembunuhan yang terjadi pada akhir 2025 lalu.
Pemerintah Hadir untuk Perdamaian
Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, menegaskan kehadirannya mewakili Gubernur Papua Pegunungan merupakan bentuk komitmen penuh pemerintah dalam menjaga stabilitas keamanan dan mencegah konflik berkepanjangan.
“Kehadiran kami adalah langkah konkret agar konflik tidak berlarut-larut dan stabilitas keamanan Wamena tetap terjaga,” tegas Ones Pahabol di hadapan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa Suku Yali dan Suku Lani memiliki ikatan sejarah, budaya, dan spiritual yang kuat sebagai satu keluarga besar di Tanah Papua.
“Kita ini satu tubuh. Masalah ini adalah musibah yang tidak kita inginkan bersama,” ujarnya.
Ones Pahabol juga menyampaikan permohonan maaf dari Gubernur Papua Pegunungan John Tabo yang berhalangan hadir karena tugas lain, seraya menegaskan bahwa pemerintah provinsi hadir sepenuhnya dan turut merasakan duka mendalam atas korban yang jatuh.
Komitmen Hentikan Konflik
Komitmen damai disampaikan Wakil Bupati Lanny Jaya, Fredi Ginia Tabuni, yang menegaskan sikap masyarakat Lanny Jaya untuk mengakhiri konflik.
“Kami sepakat, di Wamena tidak boleh ada perang lagi. Kami berkomitmen penuh untuk berdamai,” katanya.
Ia mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya yang turun langsung merangkul masyarakat di tengah situasi yang memanas.
Senada dengan itu, Bupati Jayawijaya Athenius Murib menyampaikan bahwa kedua belah pihak sejatinya memiliki kesamaan pandangan untuk mengakhiri konflik.
“Konflik hanya akan merugikan masa depan anak-anak kita dan melumpuhkan ekonomi masyarakat kecil. Mari kita kembali beraktivitas seperti biasa. Sekolah, perkantoran, dan pasar harus kembali berjalan normal,” ajaknya.
Harapan Masyarakat Adat
Perwakilan masyarakat Suku Yali menyampaikan terima kasih atas kehadiran pemerintah dan berharap proses mediasi segera membuahkan hasil damai.
“Kami tidak ingin ada korban lagi. Cukup yang sudah terjadi,” ujar perwakilan suku Yali.
Hal serupa disampaikan perwakilan Suku Lani, yang berharap konflik dapat segera diselesaikan secara adat dan kekeluargaan demi keamanan dan ketenteraman bersama.
Latar Belakang Konflik
Sebelumnya, pada Senin (19/1/2026), kedua kelompok telah mengikuti mediasi yang difasilitasi Polres Jayawijaya. Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan karena perbedaan pandangan terkait denda adat. Ketidaksepakatan itu sempat memicu ketegangan dan membuat massa dari kedua belah pihak masih bersiaga hingga Selasa.
Pemerintah daerah menegaskan akan terus mengawal proses mediasi adat secara intensif, melibatkan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan aparat keamanan, agar konflik benar-benar berakhir secara damai dan bermartabat.
Sumber : Koranvox.com
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 20 Januari 2026

0 Komentar