Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Wabah Mematikan di Hutkimo Tewaskan 21 Orang, Kapus Panggema Minta Maaf atas Keterlambatan Penanganan

YAHUKIMO, OLEMAH.COM – Wabah penyakit menular melanda Pos Pelayanan Wilayah VII Hutkimo dan menyebabkan 21 orang meninggal dunia sejak Desember 2025 hingga Februari 2026. Wabah tersebut diduga dipicu oleh penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pneumonia, dan diare yang tidak tertangani secara cepat.

Wilayah VII Hutkimo berada di kawasan perbatasan Kabupaten Yahukimo dan Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua Pegunungan. Daerah ini meliputi lima jemaat di bawah Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKI-TP) Klasis Yalimo Anggruk, yakni Jemaat Damsyik Volungsili, Jemaat Yerusalem Kemumanggen, Jemaat Yudea Tonggoi, Jemaat Efata Pontengpilik, dan Jemaat Atena Tukam.

Data yang dihimpun menyebutkan, korban meninggal dunia mencapai 21 orang, terdiri dari 4 bayi dan 17 orang dewasa laki-laki maupun perempuan. Sebagian besar korban mengalami sesak napas berat yang tidak tertolong akibat keterbatasan pelayanan medis.

Warga mengeluhkan tidak optimalnya pelayanan kesehatan di Puskesmas terdekat. Disebutkan bahwa pelayanan sempat terganggu dengan alasan stok obat habis. Namun, informasi yang beredar menyebutkan obat-obatan masih tersedia di gudang, sementara pelayanan tidak berjalan normal akibat persoalan internal.

Kepala Puskesmas Panggema, Albertina Ilintamon, akhirnya melaporkan kondisi tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Yahukimo. Pemerintah daerah merespons cepat dengan menurunkan tim dari dinas terkait ke Hutkimo untuk memberikan pelayanan medis selama tiga hari.

Dalam pelayanan tersebut, tim medis menangani berbagai kasus penyakit, antara lain:

10 kasus pneumonia

34 kasus ISPA

5 kasus gastritis

4 kasus diare

8 kasus kecacingan

40 kasus common cold

44 kasus penyakit sendi dan tulang

14 kasus batuk

7 kasus dispepsia

20 kasus lainnya yang berkaitan dengan infeksi ringan hingga sedang

Kepala Puskesmas Panggema, Albertina Ilintamon, menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan penanganan wabah tersebut.

“Saya minta maaf untuk kejadian ini. Saya baru dapat informasi dari Panggema, awalnya belum ada laporan sama sekali jadi kami terlambat turun,” ujar Ilintamon pada Jumat, 13 Februari 2026 pukul 10.00 WIT di Lingkungan VII Hutkimo.

Ia juga mengaku kecewa karena penanganan tidak dilakukan lebih awal, mengingat masyarakat seharusnya mendapatkan pelayanan kesehatan sebagaimana mestinya.

Mewakili lima jemaat di Lingkungan VII Hutkimo, masyarakat menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Yahukimo, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Yahukimo, Kepala Puskesmas Panggema, Kepala Distrik Panggema, serta para kepala kampung yang telah terlibat langsung dalam upaya penanganan wabah tersebut.

Warga berharap, dengan adanya intervensi medis dari pemerintah daerah, wabah di Wilayah VII Hutkimo segera pulih dan pelayanan kesehatan dapat kembali berjalan normal demi mencegah korban jiwa tambahan.


Sumber : Z.Kepno

Editor : Redaksi Olemah

Website : www.olemah.com

Diterbitkan : 25 Februari 2026

Posting Komentar

0 Komentar