Trotoar yang seharusnya menjadi jalur pejalan kaki kini disulap menjadi tempat jualan sederhana namun penuh perjuangan. Dengan meja seadanya dan barang dagangan yang ditata rapi, mama-mama Papua bertahan di tengah kerasnya kondisi ekonomi demi masa depan anak-anak mereka.
Salah satu mama pedagang yang enggan disebutkan namanya mengaku memilih berjualan di pinggir jalan karena pembeli lebih banyak datang ke kawasan permukiman dibandingkan ke pasar resmi.
“Pejabat dan orang-orang Papua kebanyakan membeli di jalan pemukiman jalur satu dan jarang masuk ke pasar. Jadi lebih baik kami jualan di sini supaya ada yang beli,” ungkapnya kepada wartawan.
Fenomena ini menjadi potret nyata perjuangan masyarakat kecil di Kota Dekai. Di tengah keterbatasan ekonomi, mama-mama Papua tetap berusaha mencari nafkah dengan cara sederhana agar anak-anak mereka tetap bisa sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Aktivitas jualan di trotoar tersebut juga memperlihatkan bagaimana ruang-ruang publik di Kota Dekai perlahan berubah fungsi akibat kebutuhan ekonomi masyarakat. Meski sederhana, keberadaan mama-mama penjual di pinggir jalan telah menjadi bagian dari denyut kehidupan kota setiap harinya.
Banyak warga menilai kondisi ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah, terutama terkait penataan lokasi jualan yang layak, aman, dan nyaman bagi mama-mama Papua yang menggantungkan hidup dari hasil berdagang.
Selain itu, masyarakat berharap adanya solusi nyata agar aktivitas ekonomi rakyat kecil tetap berjalan tanpa harus mengorbankan fungsi fasilitas umum seperti trotoar jalan.
Di balik ramainya Kota Dekai pada malam hari, tersimpan kisah perjuangan mama-mama Papua yang terus bertahan demi keluarga, pendidikan anak-anak, dan harapan hidup yang lebih baik di Tanah Papua.
Sumber : Kaki Abu
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 28 Mei 2026

0 Komentar