Dalam forum yang dihadiri tokoh adat, pemerintah daerah, tokoh agama, mahasiswa, hingga masyarakat adat Papua, Kang Dedi Mulyadi menyampaikan pandangannya mengenai pembangunan Indonesia yang dinilai semakin kehilangan nilai rasa, cinta, dan penghormatan terhadap budaya serta alam.
Sejak awal pidato, Kang Dedi menegaskan bahwa persoalan terbesar pembangunan Indonesia bukan hanya soal ekonomi atau infrastruktur, melainkan hilangnya pendekatan kemanusiaan dalam sistem birokrasi dan pembangunan nasional.
“Apa yang hilang dalam sistem birokrasi di Indonesia dan pendekatan pembangunan selama ini adalah hilangnya rasa dan cinta,” ungkap Kang Dedi Mulyadi.
Menurutnya, bangsa Nusantara memiliki kekuatan besar dalam nilai budaya, etika, dan hubungan harmonis dengan alam. Namun dalam perjalanan pembangunan modern, masyarakat adat justru sering diposisikan sebagai kelompok yang tertinggal dan dianggap tidak memiliki pengetahuan.
Ia mengkritik keras cara pandang tersebut dan menegaskan bahwa masyarakat adat sebenarnya adalah sumber ilmu pengetahuan yang selama ini diabaikan negara.
“Masyarakat adat dianggap bodoh, padahal mereka adalah sumber pengetahuan dan sumber ilmu yang diwariskan leluhur,” tegas Kang Dedi.
Kang Dedi Soroti Kerusakan Alam Indonesia
Dalam pidatonya, Kang Dedi Mulyadi juga menyinggung kondisi lingkungan Indonesia yang menurutnya terus mengalami penurunan kualitas sejak kemerdekaan.
Ia mempertanyakan mengapa setelah puluhan tahun merdeka, Indonesia justru mengalami kerusakan hutan, laut, sumber mata air, dan hilangnya berbagai kekayaan alam yang diwariskan leluhur.
“Leluhur kita ratusan tahun mampu menjaga alam dengan baik. Tapi kita dalam puluhan tahun justru menurunkan daya dukung lingkungan,” katanya.
Menurut Kang Dedi, masyarakat adat Nusantara, termasuk masyarakat adat Papua, memiliki sistem filosofi yang sangat kuat dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Ia menjelaskan bahwa berbagai tradisi penghormatan terhadap pohon, gunung, sungai, dan alam sering disalahpahami sebagai kemunduran, padahal sejatinya merupakan bentuk penghormatan terhadap kehidupan dan hubungan spiritual dengan lingkungan.
“Hubungan manusia dengan alam itu hubungan cinta, bukan hubungan penaklukan,” ujarnya.
Kritik Kapitalisme dan Eksploitasi Papua
Dalam bagian yang paling banyak diperbincangkan publik, Kang Dedi Mulyadi mengkritik keras sistem pembangunan yang menurutnya terlalu didorong oleh logika kapitalisme dan eksploitasi sumber daya alam.
Ia menyebut kapitalisme mengajarkan manusia untuk menaklukkan alam, lalu mengeksploitasinya tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap generasi masa depan.
“Kalau alam sudah ditaklukkan, maka alam akan dieksploitasi,” katanya.
Kang Dedi kemudian menghubungkan persoalan tersebut dengan kondisi Papua yang saat ini menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari eksploitasi sumber daya alam, perubahan tata ruang, hingga ancaman hilangnya identitas budaya masyarakat adat.
Menurutnya, Papua merupakan salah satu wilayah terakhir di Indonesia yang masih memiliki keaslian alam, udara bersih, air jernih, dan kekayaan budaya yang belum sepenuhnya rusak oleh industrialisasi modern.
“Jaga Keperawanan Papua”
Pidato Kang Dedi mencapai puncak emosional ketika ia menyampaikan pesan yang kemudian viral di media sosial.
Dengan nada serius, ia meminta seluruh masyarakat dan pemerintah menjaga Papua dari eksploitasi yang berlebihan.
“Jaga keperawanan Papua. Jangan biarkan orang hidung belang menidurinya setiap malam,” ucap Kang Dedi yang langsung disambut tepuk tangan panjang para peserta.
Ia menjelaskan bahwa Papua harus dijaga sebagai wilayah yang memiliki kehormatan budaya, keaslian alam, dan martabat masyarakat adat yang tidak boleh dirusak demi kepentingan ekonomi sesaat.
“Saya benar-benar mencintai tanah ini. Saya melihat masih ada yang original di negeri ini, namanya Papua,” kata Kang Dedi.
Papua Jangan Jadi Asing di Tanah Sendiri
Kang Dedi juga mengingatkan agar Papua tidak mengulangi kesalahan yang terjadi di berbagai daerah maju di Pulau Jawa.
Ia mencontohkan bagaimana industrialisasi dan urbanisasi yang tidak terkendali membuat masyarakat lokal kehilangan ruang hidup dan tanah mereka sendiri.
Karena itu, ia mengusulkan agar seluruh pembangunan di Papua wajib berbasis identitas budaya Papua.
Mulai dari kantor pemerintahan, sekolah, stadion, hotel, hingga bangunan publik lainnya harus menampilkan arsitektur khas Papua agar masyarakat tetap merasa berada di tanah leluhurnya.
“Kalau semua bangunan nanti seperti Jakarta, Singapura, atau Amerika, suatu saat Orang Papua akan merasa asing tinggal di Papua,” tegasnya.
Menurut Kang Dedi, rumah adat Papua berbahan kayu dan desain tradisional justru memiliki nilai estetika yang lebih tinggi dibanding bangunan modern yang seragam.
Siapkan Beasiswa untuk Anak Papua
Selain berbicara soal budaya dan lingkungan, Kang Dedi Mulyadi juga menyampaikan komitmennya dalam bidang pendidikan.
Ia mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan program beasiswa bagi puluhan anak Papua untuk belajar di Jawa Barat agar mampu bersaing secara nasional maupun internasional.
Namun ia juga mengingatkan bahwa generasi muda Papua harus berani bermimpi lebih besar.
Menurutnya, Orang Papua tidak hanya harus menjadi pemimpin di Papua, tetapi juga mampu menjadi pemimpin di berbagai daerah Indonesia.
“Saya ingin suatu saat ada orang Papua menjadi wali kota di Jawa Barat, menjadi rektor universitas di sana,” katanya.
Papua Harus Dipahami dengan Cinta
Dalam bagian akhir pidato, Kang Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pendekatan terhadap Papua tidak boleh hanya menggunakan strategi politik, keamanan, atau birokrasi semata.
Menurutnya, masyarakat Papua memiliki karakter penuh kasih, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, dan hubungan emosional yang kuat dengan lingkungan serta budayanya.
Karena itu, Papua harus dipahami dengan pendekatan yang berangkat dari cinta dan penghormatan.
“Papua harus dipahami dengan rasa dan cinta. Cinta harus bertemu dengan cinta,” ujar Kang Dedi.
Pidato Kang Dedi Mulyadi kini ramai diperbincangkan di berbagai media sosial dan dinilai sebagai salah satu pidato paling menyentuh tentang Papua yang pernah disampaikan seorang kepala daerah dari luar Tanah Papua.
Banyak masyarakat menilai pidato tersebut bukan sekadar sambutan seremonial, tetapi juga refleksi mendalam mengenai masa depan Papua, perlindungan masyarakat adat, pendidikan generasi muda, serta ancaman eksploitasi yang dapat menghilangkan jati diri Orang Asli Papua.
Sumber : Kaki Abu
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 31 Mei 2026

0 Komentar