Keputusan penundaan tersebut diumumkan melalui surat resmi Dewan Adat Papua Wilayah Mee-Pago tertanggal 10 Juni 2026 setelah mempertimbangkan berbagai aspek teknis, organisatoris, serta kebutuhan koordinasi yang lebih matang guna memastikan pelaksanaan konferensi dapat berjalan dengan baik, aman, dan menghasilkan keputusan yang bermanfaat bagi masyarakat adat.
Menurut Wolter Belau, penundaan dilakukan bukan karena membatalkan agenda konferensi, melainkan untuk memberikan waktu yang cukup bagi seluruh unsur adat dalam mempersiapkan kegiatan secara maksimal.
"Kami memandang masih ada beberapa hal penting yang perlu diselesaikan dan dikoordinasikan lebih lanjut sehingga konferensi dapat berjalan sesuai harapan bersama. Oleh karena itu, pelaksanaan Konferensi Dewan Adat Papua Wilayah Mee-Pago untuk sementara ditunda hingga pemberitahuan lebih lanjut," ujar Wolter Belau.
Agenda Strategis bagi Masyarakat Adat Mee-Pago
Konferensi Dewan Adat Papua Wilayah Mee-Pago merupakan salah satu agenda penting yang telah lama dipersiapkan oleh para pemimpin adat di wilayah Mee-Pago.
Forum tersebut direncanakan menjadi wadah untuk melakukan evaluasi program kerja organisasi, memperkuat kelembagaan adat, menyusun arah perjuangan masyarakat adat, serta membahas berbagai isu strategis yang berkaitan dengan perlindungan hak-hak masyarakat adat Papua.
Selain itu, konferensi juga akan membahas berbagai persoalan yang menyangkut pelestarian budaya, perlindungan tanah adat, pengelolaan sumber daya alam, pemberdayaan masyarakat adat, hingga peran lembaga adat dalam pembangunan daerah.
Bagi masyarakat Mee-Pago, konferensi ini dinilai memiliki arti penting karena menjadi ruang musyawarah bersama untuk menentukan arah perjuangan masyarakat adat di tengah berbagai tantangan yang dihadapi saat ini.
Minta Seluruh Komponen Tetap Jaga Komunikasi
Wolter Belau mengajak seluruh Dewan Adat Daerah, kepala suku, kepala marga, tokoh adat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, serta seluruh elemen masyarakat adat di wilayah Mee-Pago untuk tetap menjaga komunikasi dan koordinasi yang baik selama masa penundaan.
Menurutnya, semangat persatuan dan kebersamaan harus terus dijaga agar pelaksanaan konferensi nantinya dapat berlangsung sukses dan menghasilkan keputusan yang membawa manfaat bagi seluruh masyarakat adat.
"Kami berharap seluruh komponen masyarakat adat tetap menjaga komunikasi, koordinasi, dan semangat persaudaraan sambil menunggu jadwal pelaksanaan konferensi yang baru," katanya.
Sekretaris DAP Mee-Pago Sampaikan Permohonan Maaf
Sementara itu, Sekretaris Dewan Adat Papua Wilayah Mee-Pago, Septer Yeimo, menjelaskan bahwa keputusan penundaan diambil setelah melalui berbagai pertimbangan internal organisasi.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah tahapan persiapan yang perlu dimatangkan agar konferensi dapat berjalan lebih efektif dan menghasilkan keputusan yang benar-benar mewakili aspirasi masyarakat adat dari seluruh wilayah Mee-Pago.
"Atas nama panitia dan pengurus Dewan Adat Papua Wilayah Mee-Pago, kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta dan pihak terkait atas penundaan ini. Langkah ini dilakukan demi memastikan seluruh proses persiapan berjalan dengan baik," ujar Septer Yeimo.
Ia menegaskan bahwa jadwal pelaksanaan konferensi yang baru akan diumumkan secara resmi setelah seluruh persiapan dan koordinasi selesai dilakukan.
Melibatkan Seluruh Wilayah Adat Mee-Pago
Konferensi Dewan Adat Papua Wilayah Mee-Pago direncanakan melibatkan perwakilan masyarakat adat dari sejumlah kabupaten yang berada dalam wilayah adat Mee-Pago.
Wilayah tersebut meliputi:
Kabupaten Mimika
Kabupaten Nabire
Kabupaten Paniai
Kabupaten Deiyai
Kabupaten Dogiyai
Kabupaten Intan Jaya
Kabupaten Puncak
Kehadiran para kepala suku, kepala marga, tokoh perempuan, tokoh pemuda, serta unsur masyarakat adat dari seluruh wilayah tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi lembaga adat dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Papua.
Komitmen Perjuangan Tetap Berjalan
Meski konferensi ditunda, Dewan Adat Papua Wilayah Mee-Pago menegaskan bahwa komitmen organisasi dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat tetap berjalan sebagaimana mestinya.
DAP Mee-Pago menegaskan akan terus berupaya menjaga dan melindungi tanah adat, memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, melestarikan budaya, serta memperkuat peran lembaga adat dalam kehidupan masyarakat.
Pengurus DAP Mee-Pago juga mengajak seluruh masyarakat adat untuk terus menjaga persatuan, solidaritas, dan semangat kebersamaan dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.
Menurut mereka, persatuan masyarakat adat merupakan modal utama untuk memperjuangkan masa depan yang lebih baik bagi generasi Mee-Pago.
Dengan ditundanya konferensi ini, seluruh peserta diharapkan tetap bersabar sambil menunggu pengumuman resmi mengenai jadwal pelaksanaan yang baru dari Dewan Adat Papua Wilayah Adat Mee-Pago.
Sumber : Sep
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 10-Juni 2026

0 Komentar