WAMENA, Olemah.com – Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) Papua sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP), Theo Hesegem, mengungkap pengalaman pribadinya saat harus mengungsi bersama keluarga ke Polres Jayawijaya di tengah memanasnya konflik antarkelompok yang terjadi di Wamena pada Mei 2026.
Dalam pernyataan yang disampaikan di Wamena, Senin (8/6/2026), Theo menegaskan bahwa perang antarsaudara tidak pernah membawa manfaat bagi siapa pun. Menurutnya, setiap konflik yang berujung pada pertumpahan darah hanya akan meninggalkan penderitaan, kehilangan, dan kerugian bagi masyarakat Papua sendiri.
“Meninggal dalam perang suku adalah kematian yang sia-sia dan tidak membawa manfaat bagi siapa pun,” tegas Theo Hesegem.
Baru Kembali dari Sinak Saat Konflik Memanas
Theo menjelaskan bahwa sebelum konflik terjadi, dirinya bersama tim kemanusiaan YKKMP sedang berada di Sinak, Kabupaten Puncak.
Di wilayah tersebut, mereka melakukan berbagai kegiatan kemanusiaan, termasuk pemasangan baliho mengenai hak-hak masyarakat sipil berdasarkan Hukum Humaniter Internasional (HHI), menyampaikan aspirasi masyarakat terkait kondisi keamanan, serta melakukan investigasi terhadap peristiwa yang terjadi pada 14 April 2026.
Selain itu, tim juga bertemu langsung dengan warga yang mengungsi untuk mendengarkan kesaksian dan melihat kondisi yang mereka alami akibat konflik yang terjadi.
Ketika masih berada di Sinak, Theo mengaku menerima informasi mengenai terjadinya penyerangan yang diduga melibatkan kelompok dari wilayah lain terhadap masyarakat Kurima yang dipicu oleh insiden di Kampung Loginoa.
Peristiwa tersebut disebut mengakibatkan korban jiwa, kerusakan fasilitas, serta terganggunya akses transportasi akibat putusnya jembatan penghubung.
Mengungsi Demi Keselamatan Keluarga
Theo mengatakan bahwa dirinya bersama tim kemanusiaan kembali ke Wamena pada 14 Mei 2026.
Namun sehari setelah tiba, situasi keamanan semakin memanas dan konflik terbuka mulai terjadi.
Pada malam 15 Mei 2026, Theo menerima informasi mengenai potensi ancaman terhadap sejumlah rumah tokoh masyarakat Kurima.
Demi keselamatan keluarga, ia akhirnya memutuskan untuk mengungsi ke Polres Jayawijaya.
“Saya sebenarnya sempat berpikir untuk kembali ke kampung. Tetapi sebagai pembela HAM, saya merasa perlu tetap berada di Wamena untuk memantau perkembangan situasi secara langsung. Karena itu saya dan keluarga memilih mengungsi ke Polres,” katanya.
Menurut Theo, keputusan tersebut bukan karena rasa takut semata, melainkan langkah untuk memastikan keselamatan keluarga sambil tetap menjalankan tanggung jawab kemanusiaannya.
Hadiri Rapat Koordinasi Pemerintah
Meski sedang berada di tempat pengungsian, Theo tetap memenuhi undangan rapat koordinasi yang digelar Pemerintah Kabupaten Jayawijaya pada 16 Mei 2026.
Dalam rapat tersebut, ia menyampaikan sejumlah pandangan terkait konflik yang sedang berlangsung.
Pertama, Theo menyampaikan belasungkawa kepada seluruh korban dan keluarga yang terdampak konflik.
Kedua, ia menilai konflik yang terjadi bertentangan dengan nilai-nilai budaya yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat Papua.
Menurutnya, secara historis masyarakat dari kedua wilayah memiliki hubungan sosial yang panjang dan tidak dikenal sebagai komunitas yang memiliki tradisi perang satu sama lain.
Ketiga, Theo menjelaskan alasan dirinya mengungsi bersama keluarga, yaitu karena adanya informasi mengenai potensi ancaman terhadap rumah-rumah tokoh masyarakat.
“Tenaga Saya Masih Dibutuhkan untuk Papua”
Dalam rapat tersebut, Theo mengaku sempat mendapat respons berupa tawa dari sebagian peserta ketika menjelaskan alasan dirinya mengungsi.
Menanggapi hal itu, ia menyampaikan dua pernyataan yang kemudian membuat suasana rapat menjadi hening.
“Bagi saya, meninggal dalam perang suku bukanlah sebuah kehormatan. Jika itu terjadi, maka kematian itu adalah kematian yang sia-sia,” ujarnya.
Theo juga menegaskan bahwa dirinya masih ingin terus mengabdikan tenaga, pengalaman, dan pengetahuannya untuk membantu masyarakat Papua.
Menurutnya, masih banyak warga yang membutuhkan pendampingan, perlindungan hak-hak dasar, serta bantuan kemanusiaan di berbagai wilayah Papua.
“Saya percaya tenaga dan pengalaman saya masih dibutuhkan oleh banyak orang di Tanah Papua. Masih banyak masyarakat yang membutuhkan pendampingan dan pembelaan terhadap hak-hak mereka,” katanya.
Seruan Menghentikan Konflik
Melalui pernyataannya, Theo Hesegem kembali mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan dialog, perdamaian, dan penyelesaian konflik melalui mekanisme adat serta musyawarah.
Menurutnya, konflik antarsaudara hanya akan memperbesar penderitaan masyarakat dan menghambat pembangunan di Tanah Papua.
Ia berharap seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, tokoh gereja, pemerintah, dan generasi muda dapat bersama-sama menjaga persatuan dan mencegah terulangnya konflik serupa di masa mendatang.
“Papua membutuhkan perdamaian. Tidak ada masa depan yang baik jika kita terus mempertahankan konflik dan permusuhan di antara sesama saudara,” tutup Theo Hesegem.
Sumber : Theo Hesegem
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 08-Juni 2026

0 Komentar