Fenomena cuaca ekstrem tersebut diperkirakan melanda sejumlah negara di kawasan Eropa Tengah dan Barat, termasuk Jerman, Republik Ceko, Hungaria, Polandia, Prancis, hingga Belanda.
Data yang dihimpun dari analisis prakiraan cuaca Layanan Meteorologi Jerman (DWD) bersama proyeksi kependudukan menunjukkan bahwa sekitar 381 juta penduduk Eropa diperkirakan akan merasakan suhu di atas 30 derajat Celsius, tidak termasuk wilayah Turki.
Kondisi ini memicu kekhawatiran berbagai lembaga iklim karena suhu tinggi dalam waktu lama berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, kebakaran hutan, kekeringan, hingga gangguan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Jerman Hingga Polandia Diprediksi Paling Terdampak
Wilayah yang diperkirakan mengalami suhu paling tinggi berada di Polandia, Hungaria, Republik Ceko, serta sebagian besar wilayah Jerman.
Di Jerman saja diperkirakan sekitar 42 juta penduduk, terutama di kawasan Berlin dan sekitarnya, akan menghadapi suhu yang menembus angka 35 derajat Celsius.
Sementara itu hampir seluruh wilayah Polandia, Republik Ceko, dan Hungaria diperkirakan berada dalam kategori panas ekstrem sepanjang hari.
Di Prancis, meskipun status peringatan merah diperkirakan mulai dicabut pada Minggu malam, sekitar 11 juta penduduk masih berpotensi terdampak suhu tinggi yang membahayakan.
Belanda Keluarkan Peringatan Cuaca Panas
Belanda juga mengeluarkan peringatan terhadap potensi gelombang panas ekstrem.
Beberapa wilayah diperkirakan mengalami suhu yang mendekati 40 derajat Celsius, sehingga pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta melindungi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis.
Daerah Perkotaan Diperkirakan Lebih Panas
Para peneliti menjelaskan bahwa angka yang dipublikasikan kemungkinan masih lebih rendah dibanding kondisi sebenarnya di lapangan.
Hal itu disebabkan model prakiraan cuaca menggunakan resolusi sekitar 6,5 kilometer, sehingga belum sepenuhnya mampu menggambarkan fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan.
Fenomena tersebut menyebabkan suhu di kota-kota besar umumnya lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya akibat padatnya bangunan, jalan beraspal, dan minimnya ruang hijau.
Akibatnya, jumlah penduduk yang benar-benar terdampak panas ekstrem di kawasan metropolitan diperkirakan jauh lebih besar.
Dampak Gelombang Panas Semakin Mengkhawatirkan
Gelombang panas yang terjadi di Eropa dalam beberapa tahun terakhir dinilai semakin sering dan semakin intens.
Para ahli iklim mengingatkan bahwa perubahan iklim global telah meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem, termasuk musim panas yang lebih panjang dengan suhu jauh di atas rata-rata normal.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mengancam sektor pertanian, pasokan listrik, kualitas udara, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan di berbagai negara Eropa.
Pemerintah di sejumlah negara telah mengeluarkan berbagai imbauan kepada masyarakat agar menghindari paparan sinar matahari secara langsung pada siang hari, menjaga kecukupan cairan tubuh, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala kelelahan akibat panas ekstrem.
Para pengamat menilai gelombang panas tahun 2026 menjadi pengingat bahwa dunia perlu memperkuat langkah mitigasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang diperkirakan akan semakin sering terjadi pada masa mendatang.
Sumber : Detiknews
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 29-Juni 2026

0 Komentar