Kasus stunting dan gizi buruk menjadi perhatian di kampung yang dihuni sekitar 51 jiwa tersebut. Kondisi itu berlangsung di tengah keterbatasan akses terhadap air bersih, pangan bergizi dan pelayanan kesehatan.
Berdasarkan laporan BBC Indonesia yang menjadi sumber informasi berita ini, warga Kampung Anggreso masih sangat bergantung pada air hujan dan air sungai untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, termasuk untuk dikonsumsi.
Kondisi geografis dan minimnya infrastruktur membuat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat menjadi tantangan besar.
Warga Andalkan Sagu dan Hasil Kebun
Untuk memenuhi kebutuhan pangan, masyarakat mengandalkan sumber makanan yang tersedia di sekitar kampung.
Sagu menjadi salah satu makanan pokok, sementara sayuran diperoleh dari kebun masyarakat.
Ikan dan daging tidak selalu tersedia setiap hari. Warga mendapatkannya antara lain dari hasil mencari ikan maupun berburu di hutan.
Keterbatasan variasi dan ketersediaan pangan sehat menjadi persoalan penting ketika masyarakat juga menghadapi kasus stunting dan gizi buruk.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa penanganan stunting di daerah pedalaman tidak hanya berkaitan dengan pemberian makanan, tetapi juga menyangkut akses terhadap air bersih, layanan kesehatan, transportasi dan infrastruktur dasar.
Air Hujan dan Sungai Jadi Andalan
Persoalan air bersih menjadi salah satu tantangan besar bagi masyarakat Kampung Anggreso.
Warga disebut masih memanfaatkan air hujan dan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.
Bagi masyarakat di wilayah dengan akses infrastruktur terbatas, mendapatkan sumber air yang aman dan mudah dijangkau menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi anak-anak dan keluarga yang menghadapi persoalan kesehatan dan gizi.
Puluhan Tahun Belum Menikmati Listrik
Keterbatasan Kampung Anggreso tidak berhenti pada persoalan pangan dan air.
Kampung tersebut juga dilaporkan telah puluhan tahun belum teraliri listrik.
Akses jalan menuju kampung berada dalam kondisi rusak. Ketika hujan turun, perjalanan semakin sulit dan kendaraan roda dua pun disebut tidak dapat melintas dengan mudah.
Kondisi tersebut memperlihatkan tantangan pembangunan di kawasan pedalaman Mamberamo Raya yang secara geografis sulit dijangkau.
Sekali Menyeberang Sungai Rp50 Ribu
Transportasi menjadi persoalan lainnya.
Untuk bepergian dari satu kampung menuju kampung lain yang dipisahkan sungai, masyarakat harus menggunakan transportasi air.
Biaya yang harus dikeluarkan orang dewasa disebut mencapai sekitar Rp50.000 untuk sekali menyeberang.
Bagi masyarakat pedalaman, persoalan transportasi seperti ini dapat berpengaruh terhadap akses menuju berbagai pelayanan dasar.
Dapur MBG Belum Rampung
Di tengah persoalan stunting dan gizi buruk tersebut, pembangunan fasilitas untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah itu dilaporkan belum selesai.
Bangunan dapur MBG sudah mulai berdiri dan memiliki sekat-sekat ruangan. Namun, pengerjaannya belum rampung.
Dinding bangunan masih berupa plester semen dan bagian lantai masih berupa tanah.
Pembangunan disebut menghadapi kendala pengiriman material karena bahan bangunan harus didatangkan dari luar wilayah Mamberamo Raya.
Kondisi geografis serta sulitnya akses transportasi menjadi tantangan dalam membawa material menuju lokasi pembangunan.
Harapan dari Pedalaman Mamberamo Raya
Jika selesai dan mulai beroperasi, dapur MBG tersebut diharapkan dapat membantu pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak di kawasan terpencil.
Namun, kondisi Kampung Anggreso memperlihatkan bahwa persoalan gizi masyarakat pedalaman memiliki tantangan yang saling berkaitan.
Makanan bergizi membutuhkan ketersediaan bahan pangan. Kesehatan membutuhkan pelayanan medis yang dapat dijangkau. Kehidupan yang sehat juga membutuhkan air bersih dan sanitasi yang memadai.
Sementara pembangunan berbagai fasilitas membutuhkan akses jalan, transportasi dan infrastruktur pendukung.
Karena itu, penanganan stunting dan gizi buruk di kawasan pedalaman seperti Kampung Anggreso membutuhkan perhatian terhadap berbagai kebutuhan dasar masyarakat secara bersamaan.
Kisah dari Kampung Anggreso menjadi gambaran tantangan yang masih dihadapi sebagian masyarakat pedalaman Papua dalam memperoleh layanan dasar.
Di tengah kekayaan alam Papua, warga di kampung tersebut masih menantikan akses air bersih, pangan sehat, pelayanan kesehatan, listrik dan infrastruktur yang lebih memadai.
Sumber : BBC Indonesia
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 01-Agustus 2026a

0 Komentar