Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Fenomena Mangrove di Kota Jayapura, Sebuah Fakta Ekologi dan Potensi Wisata yang Terancam

Fenomena Mangrove di Kota Jayapura, Sebuah Fakta Ekologi dan Potensi Wisata yang Terancam

JAYAPURA, LELEMUKU.COM - Kawasan mangrove di Kota Jayapura, khususnya di Pantai Hamadi dan Teluk Youtefa, menjadi salah satu aset alam penting yang berfungsi sebagai paru-paru kota dan pencegah abrasi pantai. 

Berdasarkan data dari Walhi Papua dan studi Universitas Cenderawasih, luas mangrove di Taman Wisata Alam (TWA) Teluk Youtefa mencapai sekitar 233 hektare pada 2017, tetapi mengalami penurunan signifikan akibat pembabatan, penimbunan, dan pembangunan infrastruktur seperti Jembatan Youtefa sejak 2012.

Mangrove ini merupakan ekosistem primer yang terintegrasi dengan lamun dan terumbu karang, menjadi habitat bagi berbagai biota seperti ikan, kepiting, dan burung migran. 

Fungsi ekologinya mencakup penyerapan karbon, perlindungan dari banjir rob, serta penyaringan polutan air laut. Namun, kondisi mangrove di Entrop dan Hamadi semakin terlantar dengan kerusakan mencapai tingkat kritis, di mana sampah plastik sering tersangkut di akar pohon dan timbunan tanah untuk proyek seperti hotel mengancam kelestarian.

Dari segi pariwisata, Mangrove Hamadi telah berkembang menjadi destinasi ekowisata populer sejak 2021, terletak hanya 10-15 menit dari pusat kota. 

Kawasan ini menawarkan jembatan kayu sepanjang 100 meter untuk menyusuri hutan mangrove, spot foto estetik dengan latar Jembatan Youtefa yang ikonik, serta pengalaman edukasi alam. 

Wisatawan dapat menikmati perahu susur sungai, bird watching, dan kuliner lokal di sekitar Pantai Holtekamp yang terhubung melalui jembatan tersebut. 

Meskipun tiket masuk murah sekitar Rp10.000-20.000 per orang, pengelolaan wisata masih minim dengan fasilitas sederhana seperti toilet dan warung makan, serta tantangan sampah dan abrasi yang mengurangi daya tarik.

Penggiat lingkungan seperti Rumah Bakau Jayapura dan Walhi Papua sering melakukan aksi pembersihan dan penanaman mangrove untuk mencegah abrasi, sementara pemerintah daerah melalui BPBD dan Dinas Pariwisata diminta meningkatkan pengelolaan berkelanjutan. 

Potensi wisata mangrove ini bisa menjadi andalan ekonomi lokal jika dikelola dengan baik, tapi ancaman pembangunan masif membuatnya rawan hilang sebagai warisan alam Papua. (kie)

Posting Komentar

0 Komentar