Prosesi adat yang penuh makna budaya ini dihadiri oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk, Gubernur Papua Pegunungan John Tabo, Bupati Jayawijaya, Bupati Lani Jaya, serta Bupati Yahukimo Didimus Yahuli bersama tokoh adat, tokoh agama dan aparat keamanan.
Kehadiran Gubernur Papua Pegunungan bersama tiga kepala daerah dari Jayawijaya, Lani Jaya dan Yahukimo menjadi simbol kuat persatuan dan komitmen bersama untuk menghentikan konflik antar saudara di tanah Papua Pegunungan.
Dalam momen perdamaian tersebut, para pemimpin daerah menegaskan bahwa perang suku tidak boleh lagi terjadi karena hanya membawa penderitaan, korban jiwa dan kehancuran bagi masyarakat Papua sendiri.
Prosesi adat Patah Panah yang berlangsung disaksikan kedua bela pihak yang terlibat dalam perang suku tersebut menjadi simbol resmi berakhirnya pertikaian dan penegasan bahwa masyarakat Pegunungan Papua harus kembali hidup sebagai satu keluarga besar.
Gubernur Papua Pegunungan bersama para bupati berharap perdamaian yang telah disepakati ini menjadi “perdamaian abadi” yang tidak lagi membuka ruang bagi konflik baru di masa mendatang.
Masyarakat yang hadir tampak larut dalam suasana haru ketika tokoh adat dan para pemimpin daerah saling berjabat tangan dan menyampaikan komitmen menjaga keamanan serta persaudaraan di Wamena dan seluruh wilayah Papua Pegunungan.
Momentum ini kini ramai diperbincangkan masyarakat di media sosial dan disebut sebagai salah satu momen perdamaian adat terbesar di Papua Pegunungan tahun 2026.
Para tokoh daerah juga mengajak seluruh masyarakat untuk menghentikan provokasi, menjaga persatuan dan bersama-sama membangun Papua Pegunungan yang aman, damai dan maju.
Sumber : Kaki Abu
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 24 Mei 2026

0 Komentar