Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

HONAI Mulai Susun Kerangka Kerja, Pengungsi Internal Jadi Prioritas

JAYAPURA, OLEMAH.COM — Setelah resmi diluncurkan sebagai rumah bersama sejumlah denominasi gereja di Tanah Papua, Humanitarian Outreach to Need Assistance Initiative (HONAI) mulai mempersiapkan kerangka kerja untuk merespons berbagai persoalan kemanusiaan dan perdamaian di Papua.

Ketua HONAI, Pdt. Andrikus Mofu, mengatakan berbagai persoalan yang disampaikan dalam peluncuran dan talk show akan menjadi bahan pembahasan untuk menentukan prioritas kerja HONAI ke depan.

“Dalam waktu dekat kami akan rapat membicarakan apa yang menjadi prioritas. Akan tetapi, hari ini ada 100 ribu lebih pengungsi internal di berbagai daerah di Tanah Papua. Ini mesti menjadi prioritas pertama,” kata Andrikus Mofu dalam konferensi pers usai peluncuran HONAI, Selasa (15/9/2026).

Pengungsi Jadi Perhatian Utama

Menurut Andrikus, HONAI akan melakukan kunjungan ke sejumlah lokasi pengungsian untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat terdampak.

Ia menyebut HONAI sebelumnya telah mengunjungi pengungsi di Nabire dan Yahukimo.

“Ini masalah kemanusiaan. Kami akan kunjungi pengungsi di lokasi pengungsian,” ujarnya.

Ia mengatakan para pengungsi menghadapi berbagai persoalan, termasuk kebutuhan tempat tinggal, akses kesehatan dan pendidikan bagi anak-anak.

Peluncuran HONAI Rumah Bersama sendiri berlangsung di Gedung Graha SARA Kantor Sinode GKI Di Tanah Papua, Argapura, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.

HONAI Ingin Buka Ruang Dialog

Andrikus menegaskan HONAI tidak ingin kehadirannya berhenti pada kegiatan seremonial. Menurutnya, organisasi tersebut akan berupaya konsisten menyuarakan persoalan kemanusiaan dan perdamaian di Tanah Papua.

Ia juga berharap terbuka ruang dialog dengan pemerintah, termasuk pemerintah pusat, untuk menyampaikan berbagai persoalan yang menjadi perhatian HONAI.

“Kita berharap ada ruang dialog dengan pemerintah, dalam hal ini presiden, untuk menyampaikan poin-poin kita,” katanya.

Menurutnya, perubahan membutuhkan kemauan dan keterlibatan berbagai pihak melalui komunikasi serta kerja bersama.

PGI Dorong Upaya Perdamaian

Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Darwin Dharmawan, mengatakan pihaknya mengupayakan jalur lobi untuk mendorong terciptanya Papua yang lebih damai.

Namun, ia menekankan bahwa perdamaian tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja.

“Upaya membangun Papua damai adalah upaya bersama, dan peran orang muda dibutuhkan,” ujar Darwin.

Ia berharap kehadiran HONAI dapat menjadi bagian dari kerja nyata untuk mendorong perdamaian dan mendapatkan respons dari pemerintah.

Uskup Jayapura: Perjuangan Gereja Berbasis Kemanusiaan

Uskup Jayapura, Mgr. Matopai You, mengatakan upaya membangun Papua sebagai Tanah Damai telah menjadi bagian dari perjuangan gereja sejak era 2000-an.

Ia menegaskan bahwa perjuangan tersebut berkaitan dengan keadilan, perdamaian serta harkat dan martabat manusia.

Menurutnya, perjuangan Papua Tanah Damai tidak semestinya dimaknai sebagai perjuangan politik untuk kemerdekaan Papua.

“Memperjuangkan Papua Tanah Damai adalah pro kemanusiaan,” kata Matopai You.

Ia juga mengusulkan adanya seminar yang melibatkan berbagai denominasi gereja untuk menentukan persoalan-persoalan yang perlu menjadi prioritas HONAI.

Matopai menekankan bahwa menciptakan perdamaian membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Pemerintah, TNI, Polri, TPNPB, OPM juga harus dilibatkan menciptakan Papua Damai,” ujarnya.

HONAI Disebut Lahir dari Kesadaran Gereja

Sementara itu, Pdt. Dorman Wandikbo dari Dewan Gereja Papua mengatakan HONAI dibentuk berdasarkan kesadaran gereja-gereja di Tanah Papua dan bukan atas paksaan pihak tertentu.

Ia mengatakan persoalan di Papua perlu dibicarakan secara terbuka dengan mengedepankan kebenaran dan keadilan.

“Karena Papua bukan tanah kosong, kami masih ada di sini,” kata Dorman.

Dengan penyusunan kerangka kerja tersebut, HONAI selanjutnya akan menentukan prioritas program dan bentuk keterlibatan di lapangan, khususnya dalam persoalan kemanusiaan, pengungsian, perdamaian dan dialog di Tanah Papua.


Sumber : Agus G

Editor : Redaksi Olemah

Website : www.olemah.com

Diterbitkan : 22 September 2026

Posting Komentar

0 Komentar