Para mahasiswa meninggalkan kontrakan pada 3 Oktober 2026 dan untuk sementara mengungsi di lingkungan Gereja GIDI Misia, Manokwari. Persoalan tersebut kemudian mendapat perhatian dari Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, yang membantu menyelesaikan tunggakan biaya kontrakan.
Berdasarkan keterangan Ones Pahabol, tunggakan yang dilaporkan kepadanya mencapai sekitar Rp100 juta per tahun. Untuk tunggakan selama dua tahun, total biaya yang diselesaikan mencapai sekitar Rp200 juta.
Mahasiswa Kembali ke Tempat Tinggal
Ketua Ikatan Mahasiswa Yahukimo Kota Studi Manokwari, Ima Siep, membenarkan bahwa mahasiswa telah kembali ke kontrakan semula setelah persoalan pembayaran diselesaikan.
Ima menyampaikan terima kasih kepada Wakil Gubernur Papua Pegunungan atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada mahasiswa Yahukimo.
“Kami sampaikan terima kasih kepada Bapak Wakil Gubernur Papua Pegunungan atas kepedulian rela memberikan uang pribadi demi masa depan generasi muda di Yahukimo, Papua Pegunungan,” kata Ima Siep, Selasa, 6 Oktober 2026.
Menurut Ima, dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi Papua Barat. Ia menyebut Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, turut membantu mahasiswa dengan dana sebesar Rp95 juta.
“Terima kasih kepada Bapak Gubernur Papua Barat yang juga peduli kepada kami,” ujar Ima.
Ones Pahabol Gunakan Dana Pribadi
Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, mengatakan bantuan tersebut diberikan agar mahasiswa dapat kembali memiliki tempat tinggal yang layak dan melanjutkan perkuliahan tanpa terganggu persoalan kontrakan.
Menurut Ones, mahasiswa berada di Manokwari untuk menempuh pendidikan sehingga persoalan tempat tinggal perlu segera diselesaikan.
“Karena yang mereka lakukan untuk menempuh pendidikan. Agar mereka dapat kembali menempati tempat tinggalnya dan melanjutkan aktivitas perkuliahan dengan tenang,” kata Ones melalui keterangan tertulis, Selasa, 6 Oktober 2026.
Ones menjelaskan, informasi mengenai tunggakan yang diterimanya mencapai sekitar Rp100 juta per tahun. Dengan masa tunggakan dua tahun, ia kemudian menyelesaikan pembayaran sebesar Rp200 juta.
“Ya, per tahun tidak terlalu banyak, Rp100 juta satu tahun. Berarti untuk dua tahun saya selesaikan total Rp200 juta. Sudah kami koordinasi dengan pihak rumah sewaan,” ujarnya.
Ia mengatakan bantuan tersebut menggunakan dana pribadi karena tidak ingin persoalan mahasiswa semakin berlarut jika harus menunggu proses penganggaran pemerintah.
Menurut Ones, kondisi tersebut perlu segera ditangani karena tahun anggaran telah memasuki masa penutupan.
“Kalau kami menunggu juga nanti masalahnya akan menjadi lebih besar. Ada rupiah yang bisa kita selesaikan, penting karena mereka adalah masa depan Papua Pegunungan,” katanya.
Pemberitaan lain juga mencatat Ones memberikan bantuan bahan makanan kepada mahasiswa selama mereka berada di tempat penampungan sementara di Gereja GIDI Manokwari.
Sebelumnya Mengungsi di Gereja
Sebelum kembali ke kontrakan, para mahasiswa Yahukimo sempat harus meninggalkan tempat tinggal mereka karena persoalan pembayaran sewa.
RRI melaporkan lebih dari 100 mahasiswa meninggalkan kontrakan di wilayah Kelurahan Amban, Manokwari, pada 3 Oktober 2026. Mereka kemudian mencari tempat perlindungan sementara dan diterima di lingkungan Gereja GIDI Manokwari.
Jubi sebelumnya melaporkan mahasiswa tidur di lingkungan gereja dengan kondisi terbatas, sementara mereka tetap berupaya menjalankan aktivitas perkuliahan.
Kondisi tersebut kemudian mendorong sejumlah pihak memberikan bantuan, baik berupa makanan maupun dukungan untuk menyelesaikan persoalan tempat tinggal.
Kembali Kuliah dengan Lebih Tenang
Dengan terselesaikannya tunggakan kontrakan, mahasiswa Yahukimo kini dapat kembali menempati tempat tinggal mereka dan melanjutkan aktivitas perkuliahan di Kota Studi Manokwari.
Bantuan tersebut menjadi penyelesaian sementara atas persoalan tempat tinggal yang sebelumnya membuat mahasiswa harus mengungsi.
Namun, persoalan dukungan pendidikan dan keberlanjutan tempat tinggal mahasiswa tetap menjadi perhatian penting agar mahasiswa asal Yahukimo yang menempuh pendidikan di luar daerah dapat menjalani perkuliahan secara lebih aman dan tenang.
Bagi para mahasiswa, pendidikan merupakan alasan utama mereka berada di Kota Studi Manokwari. Karena itu, mereka berharap persoalan tempat tinggal dan dukungan pendidikan dapat ditangani secara berkelanjutan sehingga tidak kembali mengganggu proses perkuliahan.
Sumber : Agus G
EditOr : Redaksi Olemah.com
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 07 Oktober 2026

0 Komentar