Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Lebih dari 100 Mahasiswa Yahukimo di Manokwari Mengungsi ke Gereja GIDI

MANOKWARI, OLEMAH.COM — Lebih dari 100 mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo yang sedang menempuh pendidikan di Manokwari terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka setelah diminta mengosongkan kontrakan yang selama ini digunakan sebagai hunian mahasiswa.

Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (3/10/2026) di kawasan Kelurahan Amban, Manokwari. Setelah meninggalkan kontrakan, para mahasiswa berjalan kaki mencari tempat untuk berlindung hingga akhirnya mendapat tempat sementara di lingkungan Gereja GIDI Manokwari.

Persoalan tersebut disebut berkaitan dengan pembayaran sewa kontrakan yang menurut keterangan mahasiswa belum diselesaikan selama sekitar satu tahun tiga bulan. Nilai tunggakan yang disebutkan mencapai kurang lebih Rp95 juta.

Namun, informasi mengenai status pembayaran tersebut belum mendapatkan konfirmasi resmi dari Pemerintah Kabupaten Yahukimo maupun pemilik kontrakan.

Mahasiswa Tinggalkan Kontrakan

Berdasarkan keterangan yang diterima dari mahasiswa, mereka sebelumnya berkomunikasi dengan pihak Pemerintah Kabupaten Yahukimo. Dalam komunikasi tersebut, mahasiswa menyebut menerima penyampaian dari Lazarus Indou agar tempat tinggal dikosongkan.

Sekitar pukul 11.00 WIT, mahasiswa kemudian meninggalkan kontrakan dan mencari tempat yang dapat digunakan sebagai tempat perlindungan sementara.

Sekitar pukul 12.00 WIT, rombongan mahasiswa tiba di gedung Gereja GIDI Manokwari dan bertemu dengan Pdt. Nonit Bahabol.

Pihak gereja kemudian menerima mahasiswa untuk sementara waktu meskipun kondisi fasilitas yang tersedia terbatas.

Gereja Buka Tempat Perlindungan

Ketua Korwil IMASIEP mengatakan para mahasiswa tidak lagi memiliki tempat lain untuk dituju.

“Kami sudah tidak punya tempat lagi yang bisa kami harapkan. Karena itu kami datang kepada Bapak Pendeta sebagai tempat berlindung. Puji Tuhan, saat ini kami diterima dan kami akan tinggal di sini sampai pemerintah merespons kondisi ini,” ujarnya.

Pdt. Nonit Bahabol, yang juga disebut sebagai pembina mahasiswa Yahukimo, mengatakan pihak gereja menerima para mahasiswa dalam kondisi fasilitas yang terbatas.

Menurutnya, gedung gereja merupakan tempat ibadah, sedangkan fasilitas pastori hanya memiliki dua kamar.

Untuk membantu mahasiswa mendapatkan tempat berteduh, pihak gereja kemudian memasang sejumlah terpal di lingkungan gereja.

Minta Pemkab Yahukimo Segera Bertindak

Pdt. Nonit Bahabol meminta Pemerintah Kabupaten Yahukimo memberikan perhatian terhadap kondisi mahasiswa.

Ia menyebut telah mendampingi mahasiswa Yahukimo di Manokwari selama kurang lebih 19 tahun.

Ia juga menyampaikan bahwa gedung gereja tersebut memiliki sejarah yang berkaitan dengan pembangunan pada masa pemerintahan Ones Bahabol di Kabupaten Yahukimo.

Sementara itu, Roy Ulunggi, selaku penasihat organisasi mahasiswa Yahukimo, meminta pemerintah segera memberikan kejelasan mengenai persoalan tempat tinggal mahasiswa.

Menurut Roy, masalah tersebut perlu segera diselesaikan karena menyangkut mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan di Manokwari.

Mahasiswa Soroti Dukungan Pendidikan

Selain persoalan tempat tinggal, mahasiswa juga menyampaikan adanya persoalan terkait keberlanjutan dukungan dan bantuan bagi mahasiswa Yahukimo di Manokwari.

Menurut keterangan mahasiswa, terdapat penghentian atau penyegelan terhadap sejumlah bentuk bantuan yang mereka kaitkan dengan persoalan pencemaran nama baik.

Mahasiswa mengaku telah beberapa kali melakukan pendekatan dan menyampaikan permohonan maaf. Namun, hingga berita ini disusun, mereka menyatakan belum mendapatkan penjelasan resmi mengenai langkah penyelesaian persoalan tersebut.

Keterangan tersebut masih merupakan pernyataan dari pihak mahasiswa dan memerlukan klarifikasi dari pemerintah maupun pihak lain yang berkaitan.

Lebih dari 100 Mahasiswa Terdampak

Jumlah mahasiswa yang terdampak disebut lebih dari 100 orang. Mereka terdiri atas mahasiswa yang masih aktif menjalani pendidikan, mahasiswa yang sedang menyelesaikan proses pendidikan, serta mahasiswa yang disebut telah menyelesaikan wisuda pada Agustus 2026.

Untuk sementara, sejumlah mahasiswa mendirikan terpal di depan gedung Gereja GIDI sebagai tempat berteduh.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena mahasiswa tetap harus menjalankan aktivitas pendidikan di tengah kondisi tempat tinggal yang belum jelas.

Lima Tuntutan Mahasiswa

Dalam kondisi tersebut, mahasiswa Yahukimo di Manokwari menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Yahukimo.

Pertama, pemerintah diminta segera merespons kondisi mahasiswa yang kehilangan tempat tinggal.

Kedua, mahasiswa meminta pemerintah menyediakan tempat tinggal atau lokasi penampungan yang layak.

Ketiga, pemerintah diminta memberikan kejelasan mengenai keberlanjutan bantuan dan dukungan bagi mahasiswa.

Keempat, mahasiswa meminta pemerintah membuka ruang dialog bersama mahasiswa untuk mencari penyelesaian.

Kelima, pemerintah diminta memberikan perhatian terhadap kebutuhan mahasiswa Yahukimo yang sedang menempuh pendidikan di Manokwari.

Mahasiswa menegaskan bahwa mereka tidak memiliki tempat lain untuk dituju dan berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar persoalan tempat tinggal tidak mengganggu keberlangsungan pendidikan mereka.

Menunggu Klarifikasi Pemerintah dan Pemilik Kontrakan

Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Yahukimo maupun pemilik kontrakan mengenai status pembayaran sewa yang disebut mencapai Rp95 juta.

Belum ada pula penjelasan resmi mengenai dasar pengosongan kontrakan serta mekanisme penyelesaian persoalan tempat tinggal mahasiswa.

Olemah.com akan terus mengedepankan informasi dari berbagai pihak agar persoalan ini dapat diberitakan secara berimbang dan memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi mahasiswa Yahukimo di Manokwari.


Sumber : Doni Siep

EditOr : Redaksi Olemah.com

Website : www.olemah.com

Diterbitkan : 03 Oktober 2026

Posting Komentar

0 Komentar