Dalam pertemuan tersebut, para tokoh menyampaikan keresahan masyarakat atas pendoropan TNI Non Organik yang dinilai semakin masif. Diketahui, TNI Non Organik pertama kali masuk ke Distrik Walaik pada Oktober 2025, kemudian menyebar hingga ke Distrik Ibele dan Tailarek.
“Selama berada di tiga distrik, tindakan mereka dilakukan tanpa pemberitahuan kepada masyarakat, bahkan kepala kampung atau desa setempat tidak dilibatkan. Kondisi ini membuat masyarakat merasa trauma dan aktivitas sehari-hari terganggu,” ungkap salah satu tokoh.
Penolakan Belum Ditanggapi Pemerintah
Sebelumnya, penolakan atas kehadiran TNI Non Organik telah disuarakan oleh pemerintah daerah, DPR Provinsi, hingga DPD RI. Namun hingga kini belum ada jawaban ataupun langkah penyelesaian dari pihak berwenang.
Melihat situasi yang kian mengkhawatirkan, tokoh intelektual dari tiga distrik bersama OKP Cipayung berkomitmen untuk menggelar aksi demo damai. Rencananya, aksi tersebut akan dilaksanakan pada 3 Agustus 2025 di Wamena.
Tujuan Aksi Damai
Aksi demo damai ini tidak hanya untuk menolak pendoropan TNI Non Organik di tiga distrik, tetapi juga untuk mengingatkan masyarakat di delapan kabupaten wilayah adat Lapago agar mengambil langkah-langkah demi menjaga kenyamanan dan keamanan masyarakat setempat.
“Yang kami tolak bukan TNI yang bertugas secara biasa di wilayah Jayawijaya, melainkan tindakan berlebihan dari pasukan Non Organik yang membuat masyarakat tidak nyaman,” tegas Iberanus Hilapok selaku penanggung jawab.
Kehadiran TNI Non Organik di Papua terus menjadi isu sensitif. Masyarakat berharap pemerintah pusat mendengar aspirasi rakyat di daerah, demi terciptanya rasa aman dan damai di Tanah Papua.
Sumber : M.Ibage
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 28 Agustus 2025
0 Komentar