JAYAPURA, LELEMUKU.COM - Hutan hujan Pegunungan Cycloop menyimpan harta karun botani yang belum banyak diketahui wisatawan, yaitu berbagai spesies anggrek liar yang memukau. Dari yang tumbuh di tanah hingga yang menempel di pepohonan sebagai epifit, anggrek-anggrek ini menambah kekayaan flora Papua yang sudah terkenal dengan keanekaragamannya.
Beberapa jenis Anggrek liar yang ada di pegunungan itu diantaranya Anggrek Hitam (Dendrobium lasianthera), Anggrek besi, (Dendrobium Violaceoflavens), Anggrek Jamrud Hitam (Dendrobium Vacrophyllum var. Gigantheum), Anggrek Jamrud Kuning (Dendrobium macrophyllum A. rich), Anggrek Kuning (Dendrobium connotum), Anggrek Dasi (Bulbophyllum sp), Anggrek Nenas (Dendrobium smilliae), Anggrek Kelinci ( Dendrobium Antenatum), Anggrek Kantung (Paphiopedillum violascens).[6][8]
Vegetasi di Cycloop didominasi oleh hutan hujan dataran rendah hingga hutan pegunungan bawah. Kanopi hutan yang rapat menciptakan iklim mikro yang ideal bagi pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan, termasuk anggrek liar yang memerlukan kondisi kelembaban dan cahaya tertentu untuk tumbuh optimal.
Anggrek epifit yang hidup menempel pada batang dan dahan pohon tanpa merugikan inangnya mendominasi populasi anggrek di Cycloop. Akar anggrek yang menggantung di udara menyerap kelembaban dan nutrisi dari hujan dan udara. Beberapa spesies memiliki bunga dengan warna dan bentuk yang sangat eksotis, belum terdokumentasi dengan baik oleh dunia sains.
Selain anggrek epifit, terdapat juga anggrek tanah yang tumbuh di lantai hutan yang lembab. Anggrek jenis ini biasanya memiliki bunga yang lebih besar namun periode berbunga yang lebih singkat. Beberapa spesies hanya berbunga pada musim tertentu, membuat pengamatan anggrek menjadi aktivitas yang memerlukan waktu dan pengetahuan khusus.
Pohon-pohon raksasa khas Papua dengan batang besar dan tinggi menjadi penopang ekosistem hutan Cycloop. Beberapa pohon mencapai tinggi puluhan meter dengan diameter batang yang memerlukan beberapa orang untuk memeluknya. Pohon-pohon tua ini menjadi host bagi ratusan anggrek epifit yang hidup di berbagai ketinggian cabang.
Keanekaragaman pohon di Cycloop juga mencakup spesies-spesies endemik Papua yang belum banyak diteliti. Beberapa pohon memiliki kayu dengan kualitas tinggi yang membuat mereka menjadi target penebangan ilegal. Konservasi pohon-pohon raksasa ini penting tidak hanya untuk anggrek yang hidup di atasnya, tetapi juga untuk seluruh ekosistem hutan.
Tumbuhan obat tradisional menjadi komponen penting dari flora Cycloop yang dimanfaatkan oleh masyarakat lokal. Banyak masyarakat adat yang masih memanfaatkan tanaman dari Cycloop sebagai bahan baku obat-obatan alami untuk mengobati berbagai penyakit. Pengetahuan etnobotani ini diwariskan turun-temurun dan menjadi kearifan lokal yang berharga.
Beberapa tumbuhan obat memiliki khasiat yang telah terbukti secara empiris namun belum diteliti secara ilmiah. Potensi bioprospeksi atau pencarian senyawa bioaktif dari tumbuhan Cycloop sangat besar. Namun pemanfaatan harus dilakukan dengan prinsip berkelanjutan dan memberikan keuntungan yang adil bagi masyarakat adat sebagai penjaga pengetahuan tradisional.
Lumut, paku-pakuan, dan tumbuhan tingkat rendah lainnya juga melimpah di Cycloop. Mereka tumbuh di batang pohon, batu, dan tanah yang lembab, menciptakan lapisan hijau yang menutupi hampir setiap permukaan. Keanekaragaman tumbuhan tingkat rendah ini berperan penting dalam siklus nutrisi hutan.
Ancaman terbesar bagi flora Cycloop adalah deforestasi yang menghilangkan habitat alami. Ketika pohon-pohon besar ditebang, anggrek epifit dan tumbuhan lain yang hidup di atasnya juga mati. Hilangnya pohon induk juga mengubah iklim mikro hutan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan bawah.
Perubahan iklim juga mulai mempengaruhi distribusi dan fenologi tumbuhan di Cycloop. Beberapa spesies anggrek yang biasanya berbunga pada waktu tertentu mengalami pergeseran waktu berbunga. Perubahan pola hujan juga mempengaruhi ketersediaan air yang krusial bagi kelangsungan hidup tumbuhan.
Pengembangan wisata botani yang fokus pada pengamatan anggrek liar dan tumbuhan obat dapat menjadi alternatif wisata yang menarik. Wisatawan pecinta tanaman, fotografer, dan peneliti bersedia membayar untuk kesempatan melihat dan mendokumentasikan anggrek-anggrek langka di habitat aslinya.
Pemberdayaan masyarakat lokal sebagai pemandu wisata botani dapat memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus meningkatkan kesadaran mereka tentang pentingnya konservasi flora. Dengan memahami nilai ekonomi dari hutan yang lestari, masyarakat akan memiliki insentif kuat untuk melindungi kekayaan flora Cycloop dari berbagai ancaman. (evu)
0 Komentar