Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Front Mahasiswa Yahukimo Se-Indonesia Nyatakan “Yahukimo Darurat Militer dan Investasi” di Surabaya

Surabaya, Olemah.com– Front Mahasiswa Yahukimo Se-Indonesia Kota Surabaya menggelar aksi jumpa pers dan pembacaan pernyataan sikap di Asrama Papua, Surabaya, Rabu (21/1/2026). Aksi ini menjadi ruang penyampaian sikap politik mahasiswa Yahukimo terhadap kondisi terkini di Kabupaten Yahukimo dan Tanah Papua secara umum, yang mereka nilai berada dalam situasi darurat militer dan ancaman investasi.

Aksi yang diinisiasi oleh Front Mahasiswa Yahukimo Se-Indonesia ini mengangkat tema besar “Yahukimo Darurat Militer dan Investasi”. Mahasiswa menilai sejak 2021 hingga 2026, Yahukimo terus berada dalam tekanan militerisme yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat sipil.

Tekanan Militer dan Dampak terhadap Warga Sipil

Dalam pembacaan situasi, mahasiswa menyebutkan bahwa aktivitas masyarakat Yahukimo sehari-hari terus dibayang-bayangi operasi militer. Penangkapan, penyisiran rumah warga, pengungsian, hingga korban jiwa disebut masih terus terjadi.

Mahasiswa juga menyoroti stigma dan kriminalisasi terhadap warga sipil Papua hanya karena identitas kultural, seperti rambut gimbal dan kumis brewok, yang menurut mereka merupakan identitas orang asli Papua, bukan indikator keterlibatan konflik.

“Warga sipil terus hidup dalam rasa takut. Penyisiran dan penangkapan liar terjadi di rumah-rumah warga sejak 2023. Ini pelanggaran hak asasi manusia,” demikian salah satu poin pembacaan sikap.

Investasi dan Pemekaran Dinilai Ancam Eksistensi Rakyat

Selain militerisme, Front Mahasiswa Yahukimo Se-Indonesia menilai investasi skala besar menjadi ancaman serius bagi rakyat Yahukimo. Sejumlah proyek yang disorot antara lain rencana tambang emas di Distrik Soba, tambang batu bara di Suru-suru, penanaman sawit di wilayah perbatasan Yahukimo–Boven Digoel, hingga pengembangan kawasan sawah di Jalan Logpon, Distrik Dekai.

Mahasiswa juga menolak rencana pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) dari Kabupaten Yahukimo, seperti DOB Yalimek, Yahukimo Timur, Yahukimo Barat, Yahukimo Utara, dan Eroma. Mereka menilai pemekaran dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi konflik, sumber daya manusia, serta pelanggaran HAM yang masih berlangsung.

“Pemekaran ini kami nilai sebagai strategi negara untuk memecah belah persatuan orang Yahukimo,” tegas mereka.

14 Pernyataan Sikap Front Mahasiswa Yahukimo

Dalam aksi tersebut, mahasiswa membacakan 14 poin tuntutan, di antaranya:

Menghentikan seluruh rencana pemekaran DOB di wilayah Yahukimo

Menghentikan penanaman kelapa sawit di Yahukimo

Menghentikan pengembangan sawah di Jalan Logpon

Menghentikan rencana tambang emas di Distrik Soba

Menghentikan tambang batu bara di Suru-suru

Menghentikan pembangunan pos-pos militer

Menghentikan pendropan militer melalui udara dan laut

Menghentikan penangkapan paksa dan penyisiran di rumah warga

Menghentikan kriminalisasi warga sipil berbasis identitas budaya

Menghentikan pengeboman udara di wilayah sipil

Menghentikan pemasangan granat di permukiman warga

Negara segera memfasilitasi layanan listrik PLN bagi masyarakat

Menghentikan tekanan politik terhadap rakyat Yahukimo

Memberikan hak penentuan nasib sendiri sebagai solusi demokratis

Mahasiswa Tegaskan Komitmen Perjuangan

Koordinator aksi, Jhon dan Hubla, menegaskan bahwa mahasiswa Yahukimo di seluruh Indonesia akan terus menyuarakan kondisi riil di tanah kelahiran mereka. Sementara penanggung jawab aksi, Appul Heluka dan Kamus Bayage, menyatakan bahwa perjuangan ini dilakukan demi menjaga keberlangsungan hidup rakyat Yahukimo di tengah konflik berkepanjangan.

Aksi di Surabaya ini menambah deretan suara kritis mahasiswa Papua di luar daerah yang menuntut penghentian kekerasan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta pembangunan yang berpihak pada rakyat, bukan kepentingan militer dan korporasi.


Sumber : Doni Siep

Editor : Redaksi Olemah

Website : www.olemah.com

Diterbitkan : 22 Januari 2026

Posting Komentar

0 Komentar