Aksi yang diinisiasi oleh Front Mahasiswa Yahukimo Se-Indonesia ini mengangkat tema besar “Yahukimo Darurat Militer dan Investasi”. Mahasiswa menilai sejak 2021 hingga 2026, Yahukimo terus berada dalam tekanan militerisme yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat sipil.
Tekanan Militer dan Dampak terhadap Warga Sipil
Dalam pembacaan situasi, mahasiswa menyebutkan bahwa aktivitas masyarakat Yahukimo sehari-hari terus dibayang-bayangi operasi militer. Penangkapan, penyisiran rumah warga, pengungsian, hingga korban jiwa disebut masih terus terjadi.
Mahasiswa juga menyoroti stigma dan kriminalisasi terhadap warga sipil Papua hanya karena identitas kultural, seperti rambut gimbal dan kumis brewok, yang menurut mereka merupakan identitas orang asli Papua, bukan indikator keterlibatan konflik.
“Warga sipil terus hidup dalam rasa takut. Penyisiran dan penangkapan liar terjadi di rumah-rumah warga sejak 2023. Ini pelanggaran hak asasi manusia,” demikian salah satu poin pembacaan sikap.
Investasi dan Pemekaran Dinilai Ancam Eksistensi Rakyat
Selain militerisme, Front Mahasiswa Yahukimo Se-Indonesia menilai investasi skala besar menjadi ancaman serius bagi rakyat Yahukimo. Sejumlah proyek yang disorot antara lain rencana tambang emas di Distrik Soba, tambang batu bara di Suru-suru, penanaman sawit di wilayah perbatasan Yahukimo–Boven Digoel, hingga pengembangan kawasan sawah di Jalan Logpon, Distrik Dekai.
Mahasiswa juga menolak rencana pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) dari Kabupaten Yahukimo, seperti DOB Yalimek, Yahukimo Timur, Yahukimo Barat, Yahukimo Utara, dan Eroma. Mereka menilai pemekaran dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi konflik, sumber daya manusia, serta pelanggaran HAM yang masih berlangsung.
“Pemekaran ini kami nilai sebagai strategi negara untuk memecah belah persatuan orang Yahukimo,” tegas mereka.
14 Pernyataan Sikap Front Mahasiswa Yahukimo
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membacakan 14 poin tuntutan, di antaranya:
Menghentikan seluruh rencana pemekaran DOB di wilayah Yahukimo
Menghentikan penanaman kelapa sawit di Yahukimo
Menghentikan pengembangan sawah di Jalan Logpon
Menghentikan rencana tambang emas di Distrik Soba
Menghentikan tambang batu bara di Suru-suru
Menghentikan pembangunan pos-pos militer
Menghentikan pendropan militer melalui udara dan laut
Menghentikan penangkapan paksa dan penyisiran di rumah warga
Menghentikan kriminalisasi warga sipil berbasis identitas budaya
Menghentikan pengeboman udara di wilayah sipil
Menghentikan pemasangan granat di permukiman warga
Negara segera memfasilitasi layanan listrik PLN bagi masyarakat
Menghentikan tekanan politik terhadap rakyat Yahukimo
Memberikan hak penentuan nasib sendiri sebagai solusi demokratis
Mahasiswa Tegaskan Komitmen Perjuangan
Koordinator aksi, Jhon dan Hubla, menegaskan bahwa mahasiswa Yahukimo di seluruh Indonesia akan terus menyuarakan kondisi riil di tanah kelahiran mereka. Sementara penanggung jawab aksi, Appul Heluka dan Kamus Bayage, menyatakan bahwa perjuangan ini dilakukan demi menjaga keberlangsungan hidup rakyat Yahukimo di tengah konflik berkepanjangan.
Aksi di Surabaya ini menambah deretan suara kritis mahasiswa Papua di luar daerah yang menuntut penghentian kekerasan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta pembangunan yang berpihak pada rakyat, bukan kepentingan militer dan korporasi.
Sumber : Doni Siep
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 22 Januari 2026

0 Komentar