Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Mahasiswa Papua Pegunungan di Jayapura Serukan Hentikan Konflik Lani–Yali di Wamena

Jayapura, Olemah.com — Dua komunitas mahasiswa asal Provinsi Papua Pegunungan yang bermukim di Kota Jayapura secara terbuka menyatakan sikap menolak keras konflik sosial dan perang antarsuku yang terjadi di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Komunitas tersebut adalah Komunitas Pelajar Mahasiswa Yahukimo (KPMY) dan Himpunan Pelajar Mahasiswa Lani Jaya (HPM-LJ). Keduanya menilai konflik antara suku Lani dari Kabupaten Lani Jaya dan suku Yali dari Kabupaten Yahukimo telah menimbulkan ketegangan serius, eskalasi kekerasan yang berbahaya, serta menelan korban jiwa di antara sesama orang asli Papua.

Pernyataan sikap ini disampaikan dalam jumpa pers bersama yang digelar di Asrama Mahasiswa Yahukimo, Perumnas III Waena, Kota Jayapura, pada Rabu (21/1/2026).

“Perang Bukan Solusi, Jayawijaya Harus Damai”

Ketua KPMY, Edius Bayage, menegaskan bahwa mahasiswa Papua Pegunungan di Jayapura menolak segala bentuk kekerasan dan mendesak semua pihak yang bertikai untuk segera menghentikan perang serta menempuh jalan damai.

“Perang bukan solusi terbaik. Kami mahasiswa Papua Pegunungan di Kota Jayapura tidak mengharapkan konflik ini terus terjadi di Kabupaten Jayawijaya, khususnya di Wamena sebagai ibu kota Provinsi Papua Pegunungan,” tegas Edius.

Ia menekankan bahwa Jayawijaya memiliki posisi strategis sebagai pusat pemerintahan provinsi, sehingga konflik berkepanjangan akan berdampak luas terhadap stabilitas sosial, ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik.

Edius juga meminta agar tidak ada lagi korban jiwa, serta mengajak seluruh kalangan intelektual Papua—baik mahasiswa, akademisi, maupun tokoh terdidik—untuk aktif memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat.

“Kami minta para intelektual memberikan pemahaman yang baik agar masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Jangan lagi gunakan budaya perang untuk menyelesaikan persoalan sosial,” ujarnya.

Desakan Mahasiswa: Pemerintah dan Lembaga Adat Harus Turun Tangan

Senada dengan itu, Ketua Rukun Keluarga Wilayah Anpropakos Kabupaten Yahukimo, Kalvin Pahabol, mengaku sangat prihatin dengan situasi yang berkembang di Wamena.

“Kami sebagai mahasiswa asal Papua Pegunungan di Jayapura sangat prihatin. Kami mendesak Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya segera turun tangan untuk mendamaikan kedua belah pihak,” katanya.

Kalvin juga mendorong agar pemerintah daerah bersama lembaga adat segera merumuskan regulasi yang jelas dan tegas untuk mencegah konflik antarsuku terulang kembali di masa depan.

Mahasiswa Diminta Tidak Membawa Konflik ke Kota Studi

Sementara itu, Ketua HPM-LJ, Yokus Morip, menegaskan pentingnya persatuan mahasiswa Papua Pegunungan di tanah perantauan. Ia mengingatkan agar konflik di kampung halaman tidak dibawa ke kota studi.

“Mahasiswa asal Yahukimo dan Lani Jaya di Jayapura harus bersatu, tidak memihak, dan tidak membawa konflik dari kampung ke kota studi. Kita harus memberikan masukan yang menyejukkan agar situasi di Jayawijaya kembali kondusif,” tegas Yokus.

Ia juga mendesak pemerintah provinsi untuk turun langsung ke lapangan dan memastikan proses perdamaian berjalan nyata, bukan hanya seremonial.

Pernyataan Sikap Bersama KPMY dan HPM-LJ

Dalam pernyataan sikap resmi, kedua organisasi mahasiswa tersebut menyampaikan lima poin tuntutan utama:

Menolak tegas pembunuhan dan penyelesaian masalah dengan budaya perang.

Mendesak kedua belah pihak yang bertikai segera melakukan perdamaian.

Mendukung penuh upaya pemerintah daerah, pemerintah provinsi, gereja, DPRP, MRP, dan LSM dalam penyelesaian konflik.

Meminta aparat keamanan menjamin keselamatan masyarakat hingga konflik benar-benar berakhir.

Merekomendasikan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan Lembaga Masyarakat Adat (LMA) menetapkan regulasi penyelesaian konflik berbasis hukum adat yang selaras dengan hukum nasional, termasuk pemberian sanksi tegas bagi pelaku konflik horizontal.

Seruan Damai dari Generasi Muda Papua

Pernyataan ini menjadi sinyal kuat dari generasi muda Papua Pegunungan yang menginginkan masa depan damai, aman, dan bermartabat. Mahasiswa menilai bahwa konflik berkepanjangan hanya akan merugikan rakyat kecil dan menghambat pembangunan Papua Pegunungan secara keseluruhan.

“Cukup sudah sesama orang Papua saling menjadi korban. Jayawijaya harus kembali damai,” tutup pernyataan mereka.


Sumber : TRIBUN-PAPUA.COM

Editor : Redaksi Olemah

Website : www.olemah.com

Diterbitkan : 21 Januari 2026

Posting Komentar

0 Komentar