Mengutip laporan Franceinfo, jaksa Prancis menyatakan keempat tersangka diduga terlibat dalam operasi intelijen yang menargetkan data sensitif militer, Kamis (5/2/2026). Penahanan dilakukan di Gironde.
Sebelumnya, surat kabar Le Figaro melaporkan bahwa aparat keamanan Prancis menangkap empat orang atas dugaan melakukan aktivitas spionase untuk China. Dari jumlah tersebut, dua orang diketahui merupakan warga negara China.
Menurut laporan jaksa, dua tersangka ditahan dalam penahanan pra-persidangan, sementara dua lainnya ditempatkan di bawah pengawasan yudisial sambil menunggu proses hukum lanjutan.
Jaksa mengungkapkan bahwa dua warga negara China tersebut masuk ke Prancis dengan status sebagai insinyur yang bekerja untuk sebuah perusahaan riset di bidang sistem komunikasi nirkabel. Status profesional itu diduga digunakan sebagai kedok untuk menjalankan aktivitas intelijen.
Dalam penggeledahan di apartemen sewaan para tersangka, penyelidik menemukan sistem komputer canggih yang terhubung dengan antena satelit. Menurut jaksa, perangkat tersebut memiliki kemampuan untuk menyadap dan mengumpulkan data sensitif yang dipertukarkan oleh sejumlah unit militer strategis Prancis.
“Otoritas menemukan peralatan teknis yang memungkinkan pengintaian komunikasi tingkat tinggi,” ungkap sumber kejaksaan kepada media setempat.
Kasus ini langsung memicu perhatian luas di Prancis karena menyangkut keamanan nasional dan potensi kebocoran informasi pertahanan. Pemerintah Prancis belum mengungkap detail unit militer mana saja yang menjadi target penyadapan, dengan alasan kepentingan penyelidikan dan keamanan negara.
Hingga berita ini diterbitkan, pemerintah China belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut. Kasus ini menambah daftar panjang ketegangan global terkait isu spionase, keamanan siber, dan persaingan geopolitik antara negara-negara besar.
Sumber : jpnn.com
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 07 Februari 2026
0 Komentar