Laporan tersebut disampaikan oleh media Axios, yang mengutip sumber internal terkait perkembangan operasi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Fokus pada Pelemahan Garda Revolusi Iran
Dalam fase lanjutan operasi militer tersebut, Amerika Serikat disebut akan memfokuskan serangan terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC).
Tujuan dari strategi tersebut adalah untuk melemahkan kekuatan militer Iran hingga titik tertentu yang dinilai dapat memicu tekanan internal di dalam negeri.
Menurut sumber yang dikutip dalam laporan tersebut, operasi militer tersebut diharapkan dapat membuka peluang munculnya perlawanan dari dalam negeri Iran.
“Akan ada upaya untuk melepaskan kekuatan dari dalam Iran. Mungkin sebuah kota akan jatuh atau sebuah unit militer memberontak,” ujar sumber yang dikutip Axios.
Konflik Memanas Sejak Akhir Februari
Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat meningkat sejak 28 Februari 2026, ketika Israel yang didukung Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah target di wilayah Iran.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban sipil.
Sebagai balasan, Iran kemudian melancarkan serangan terhadap wilayah Israel serta fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
AS Sebut Operasi Terkait Ancaman Nuklir
Pada awalnya, Amerika Serikat dan Israel menyatakan bahwa operasi militer tersebut dilakukan untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, beberapa pejabat Amerika mengakui bahwa operasi tersebut juga berkaitan dengan upaya menekan perubahan kekuasaan di Iran.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, serta Presiden Donald Trump, juga mengakui bahwa keterlibatan Amerika dalam konflik tersebut berkaitan dengan dukungan terhadap Israel.
Rusia Kecam Operasi Militer
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Menurut Putin, tindakan tersebut dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengeluarkan pernyataan resmi yang mengutuk operasi militer tersebut dan menyerukan deeskalasi serta penghentian permusuhan di kawasan Timur Tengah.
Situasi di wilayah tersebut hingga kini masih menjadi perhatian dunia internasional karena dikhawatirkan dapat memicu konflik yang lebih luas.
Sumber : TEMPO.CO
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 14 Maret 2026

0 Komentar