Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Aliansi Mahasiswa Papua Soroti 59 Tahun Freeport, Serukan Hak Penentuan Nasib Sendiri

Malang, Olemah.com – Sejumlah organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua bersama Front Rakyat Indonesia untuk West Papua dan Ikatan Pelajar Mahasiswa Papua se-Malang Raya menyampaikan pernyataan sikap politik terkait keberadaan perusahaan tambang Freeport Indonesia di Papua.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam momentum 59 tahun kontrak karya Freeport yang dinilai menjadi bagian dari persoalan panjang di Tanah Papua.

Soroti Sejarah Kontrak dan Dampaknya

Dalam pernyataan tersebut, aliansi mahasiswa menilai bahwa kontrak kerja Freeport yang dimulai pada tahun 1967 dilakukan sebelum proses Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969.

Mereka menganggap hal tersebut sebagai bagian dari persoalan historis yang hingga kini masih menyisakan berbagai perdebatan, termasuk terkait legitimasi dan dampak terhadap masyarakat Papua.

Selain itu, mereka juga menyoroti berbagai isu seperti:

Dugaan pelanggaran hak asasi manusia

Kerusakan lingkungan dan deforestasi

Hilangnya hak ulayat masyarakat adat

Dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat lokal

Isu Lingkungan dan Eksploitasi Sumber Daya

Aliansi mahasiswa menyebut bahwa aktivitas industri ekstraktif di Papua, termasuk pertambangan dan perkebunan, dinilai telah mempercepat laju deforestasi serta merusak ekosistem hutan.

Mereka mengutip data yang menunjukkan luas hutan yang terdampak serta ekspansi proyek-proyek besar di berbagai wilayah Papua.

Kritik terhadap Kebijakan Pemerintah

Dalam pernyataannya, aliansi juga mengkritik sejumlah kebijakan nasional yang dinilai lebih berpihak pada kepentingan investasi dan kapitalisme global.

Beberapa regulasi yang disoroti antara lain:

Undang-Undang Minerba

Omnibus Law

Otonomi Khusus Jilid II

Proyek Strategis Nasional (PSN)

Menurut mereka, kebijakan tersebut berdampak pada meningkatnya tekanan terhadap masyarakat adat di Papua.

Seruan Persatuan dan Tuntutan Politik

Aliansi mahasiswa Papua menyerukan pentingnya persatuan nasional di antara kelompok masyarakat yang merasa tertindas, serta menyampaikan sejumlah tuntutan politik.

Beberapa poin utama tuntutan tersebut meliputi:

Hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua

Penutupan perusahaan tambang dan industri ekstraktif di Papua

Penarikan aparat militer dari wilayah Papua

Pembukaan akses jurnalis ke Papua

Penuntasan kasus pelanggaran HAM

Selain itu, mereka juga menyuarakan isu-isu lain seperti perlindungan masyarakat adat, penghentian kriminalisasi aktivis, serta penolakan terhadap berbagai bentuk kekerasan dan konflik sosial.

Seruan Akhiri Konflik dan Ketidakadilan

Dalam penutup pernyataannya, aliansi mahasiswa menilai bahwa berbagai persoalan di Papua tidak terlepas dari sistem ekonomi dan politik yang lebih luas.

Mereka menyerukan perlunya perubahan serta upaya kolektif untuk mengakhiri konflik, ketidakadilan sosial, dan pelanggaran hak asasi manusia di Papua.


Sumber : Doni Siep

Editor : Redaksi Olemah

Website : www.olemah.com

Diterbitkan : 10 April 2026


Posting Komentar

0 Komentar