JAKARTA, OLEMAH.COM — Mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, menilai peta ancaman terhadap pertahanan Indonesia telah mengalami perubahan. Ancaman terhadap negara, menurutnya, tidak lagi hanya datang dalam bentuk perang militer konvensional, tetapi juga dapat muncul melalui persoalan sosial, ekonomi, teknologi, informasi, hingga kondisi generasi muda.
Pandangan tersebut disampaikan Gatot Nurmantyo dalam webinar “Kamu Bertanya, Jenderal Gatot Menjawab” yang membahas berbagai persoalan strategis terkait kondisi pertahanan dan masa depan Indonesia.
Dalam diskusi tersebut, Gatot mengingatkan pentingnya pemerintah memperhatikan persoalan generasi muda. Salah satu isu yang menjadi perhatian publik adalah persoalan puluhan ribu calon mahasiswa yang tidak melanjutkan proses registrasi atau terkait kuota pendidikan tinggi yang tidak terisi.
Namun, data mengenai angka 60 ribu perlu dipahami secara hati-hati. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebelumnya menjelaskan bahwa angka tersebut bukan berarti 60 ribu mahasiswa pada tahun 2026 secara langsung gagal kuliah, melainkan berkaitan dengan evaluasi data penerimaan mahasiswa baru tahun sebelumnya serta sejumlah indikator berbeda dalam proses penerimaan mahasiswa.
Menurut Gatot, persoalan pendidikan, pengangguran, ketahanan ekonomi, dan masa depan generasi muda tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa. Kondisi sosial yang tidak ditangani dengan baik, menurut berbagai pandangan yang disampaikan dalam diskusi pertahanan, dapat berkembang menjadi persoalan yang memengaruhi stabilitas nasional.
Gatot juga menyoroti perkembangan ancaman modern, termasuk perang informasi dan perang kognitif. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial dapat menjadi tantangan serius apabila dimanfaatkan untuk menyebarkan disinformasi, manipulasi narasi, dan operasi psikologis yang berpotensi memengaruhi kepercayaan publik terhadap pemerintah maupun lembaga negara.
Ancaman tersebut, menurut Gatot, berbeda dengan perang konvensional karena dapat berkembang tanpa harus melibatkan serangan militer secara langsung. Perang informasi dapat memengaruhi cara masyarakat memahami suatu persoalan dan membentuk opini publik melalui berbagai narasi yang terus disebarkan.
Selain persoalan informasi, Gatot juga menyinggung pentingnya ketahanan nasional yang tidak hanya bergantung pada kekuatan militer. Ketahanan pangan, kemandirian ekonomi, kesiapan generasi muda, penguasaan teknologi, dan kekuatan industri menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan Indonesia.
Dalam konteks pendidikan, persoalan akses generasi muda terhadap perguruan tinggi juga menjadi perhatian publik. Pemerintah sebelumnya menyatakan perlu mengkaji penyebab berbagai persoalan terkait calon mahasiswa yang tidak melanjutkan registrasi, termasuk kemungkinan adanya kendala pembiayaan dan akses pendidikan.
Persoalan tersebut dinilai penting karena generasi muda merupakan bagian dari kekuatan utama Indonesia pada masa depan. Ketika anak-anak muda menghadapi hambatan dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan, dan kesempatan untuk berkembang, pemerintah perlu memberikan perhatian serius melalui kebijakan yang mampu membuka peluang lebih luas.
Gatot dalam berbagai pemaparannya juga menekankan bahwa perubahan bentuk ancaman menuntut negara untuk lebih siap menghadapi tantangan modern. Tidak hanya melalui kekuatan pertahanan, tetapi juga dengan memperkuat kualitas sumber daya manusia, ekonomi, pendidikan, teknologi, dan kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Webinar “Kamu Bertanya, Jenderal Gatot Menjawab” tersebut menjadi salah satu ruang diskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia. Gatot menilai perkembangan teknologi, perubahan geopolitik, dan persoalan sosial perlu menjadi perhatian serius dalam membangun Indonesia yang tangguh dan berdaulat.
Sumber : Tribun Vidio
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 28-Agustus 2026

0 Komentar