Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, yang menjadi salah satu lokasi utama rangkaian peringatan 21 tahun perdamaian Aceh.
Penolakan terhadap Wakapolda terjadi ketika situasi di sekitar lokasi kegiatan memanas. Berdasarkan laporan yang beredar, massa meminta Wakapolda dan sejumlah personel aparat meninggalkan area kegiatan.
Ketegangan Terjadi di Tengah Peringatan Hari Damai Aceh
Peringatan 21 Tahun Hari Damai Aceh seharusnya menjadi momentum untuk mengenang berakhirnya konflik bersenjata dan memperkuat komitmen terhadap perdamaian di Aceh.
Namun, rangkaian kegiatan pada Sabtu tersebut justru diwarnai ketegangan antara massa dan aparat keamanan.
Sejumlah laporan menyebut ketegangan berkaitan dengan munculnya bendera Bulan Bintang di tengah kerumunan. Situasi kemudian berkembang ketika aparat berupaya mengendalikan keadaan.
Dalam laporan yang beredar, aparat disebut sempat melepaskan tembakan peringatan ke udara. Setelah itu, massa mengejar sejumlah personel dan Wakapolda yang berada di lokasi dilaporkan diminta meninggalkan kawasan masjid.
Olemah.com belum menemukan keterangan resmi Polda Aceh yang secara rinci menjelaskan kronologi penolakan terhadap Wakapolda maupun alasan spesifik massa meminta yang bersangkutan meninggalkan lokasi.
Siapa Wakapolda Aceh?
Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo merupakan Wakapolda Aceh. Ia resmi menjabat posisi tersebut setelah serah terima jabatan pada April 2025.
Dalam berbagai kegiatan sebelumnya, Ari Wahyu juga tercatat menghadiri kegiatan keagamaan bersama masyarakat. Pada Januari 2026, misalnya, ia menghadiri peringatan Isra Mikraj di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Ia juga memimpin sejumlah kegiatan Polda Aceh, termasuk upacara Hari Bhayangkara ke-80 pada 1 Juli 2026.
Sementara itu, Kapolda Aceh saat ini adalah Irjen Pol. Ruddi Setiawan.
Peringatan 21 Tahun Damai Aceh
Pemerintah Aceh melalui Badan Reintegrasi Aceh sebelumnya telah melakukan persiapan untuk memperingati 21 tahun Hari Damai Aceh. Peringatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat perdamaian dan proses reintegrasi pascakonflik.
Peristiwa di Masjid Raya Baiturrahman menjadi perhatian karena terjadi di tengah momentum yang seharusnya menjadi simbol perdamaian Aceh.
Situasi tersebut kembali menunjukkan pentingnya komunikasi antara pemerintah, aparat keamanan, mantan kombatan, tokoh masyarakat, ulama dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga perdamaian Aceh.
Polisi dan Pemerintah Diminta Berikan Penjelasan Terbuka
Masyarakat membutuhkan informasi yang jelas mengenai apa yang sebenarnya terjadi di lokasi, termasuk penyebab ketegangan, kronologi penolakan terhadap Wakapolda, serta tindakan aparat selama kejadian.
Keterbukaan informasi diperlukan agar tidak muncul berbagai versi yang dapat memperkeruh situasi dan menimbulkan kesimpangsiuran di tengah masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, Olemah.com masih menunggu keterangan resmi dari Polda Aceh mengenai kronologi lengkap peristiwa, alasan penolakan terhadap Wakapolda Aceh, serta kondisi keamanan setelah kejadian.
Sumber : TribunJakarta TV
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 16-Agustus 2026

0 Komentar