Konferensi pers ini dihadiri oleh Bupati Yahukimo Didimus Yahuli, SH, MH, Wakil Bupati Esau Miram, SIP, Sekretaris Daerah Redison Manurung, Dandim 1715 Yahukimo, Kapolres Yahukimo atau mewakili, Danpos Brimob Yahukimo, serta perwakilan dari Kesatuan Marinir Yahukimo.
"Pada hari ini yang bersejarah, kami menyatakan bahwa peristiwa di Anggruk untuk proses penanganan keamanan secara genting, dinyatakan selesai dan ditutup," ujar Bupati Yahuli.
Ia menambahkan bahwa selanjutnya penanganan kasus akan dilanjutkan oleh aparat penegak hukum. Hasil investigasi dari pemerintah, lembaga HAM, dan gereja menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut murni merupakan tindak kriminal yang harus diselesaikan secara hukum.
Bupati Yahuli juga menyampaikan apresiasi kepada TNI dan Polri atas keterlibatan langsung mereka dalam proses penanganan peristiwa tersebut, serta kepada seluruh elemen masyarakat, gereja, tokoh pemuda, dan jajaran pemerintah daerah yang telah bersinergi.
Sebagai bagian dari pemulihan situasi, Pemkab Yahukimo juga meminta agar sekitar 40–50 personel marinir yang saat ini masih berada di Anggruk untuk secara bertahap ditarik kembali ke Dekai. Menurut Bupati, kondisi geografis dan kepadatan wilayah Anggruk membuat masyarakat sipil justru lebih rentan terdampak jika situasi keamanan terus dimiliterisasi.
“Kehidupan masyarakat lebih kasihan dari situasi sebelumnya. Oleh karena itu, kami tarik pasukan marinir dan serahkan proses hukum sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk mempertanggungjawabkan pelaku kriminal,” pungkasnya.
(Penulis:Redaksi Olemah)
0 Komentar