Tanpa pengawalan berlebihan dan jauh dari kesan formalitas, langkah Yunus Wonda memperlihatkan empati seorang pemimpin yang ingin merasakan denyut kehidupan warganya. Di balik perjalanan panjang itu, tersimpan keprihatinan mendalam: masih ada masyarakat yang hidup jauh dari akses pendidikan, layanan kesehatan, dan infrastruktur layak.
Di Kampung Omon, anak-anak masih berjuang untuk bisa bersekolah secara layak. Ketika sakit, warga menghadapi kesulitan besar untuk mendapatkan pertolongan medis. Kampung ini terus menanti kehadiran pemerintah yang lebih menetap, bukan sekadar singgah sesaat.
Masyarakat berharap kunjungan tersebut tidak berhenti pada simbol dan dokumentasi, melainkan berlanjut pada kebijakan dan tindakan nyata—mulai dari pembukaan akses jalan, peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan, hingga kehadiran program pembangunan yang berkeadilan.
“Kami berharap kepemimpinan seperti ini terus berlanjut, agar masyarakat kampung merasakan keadilan pembangunan yang sama seperti saudara-saudara kami di kota,” ujar salah satu warga setempat.
Kunjungan Yunus Wonda ke Kampung Omon menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati dimulai dari keberanian pemimpin untuk hadir di tempat tersulit, mendengar langsung, dan bertindak konsisten
Sumber : Kaki Abu
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 09 Januari 2026

0 Komentar