Olemah.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia mulai mengarahkan langkah besar menuju kemandirian energi dengan mendorong penggunaan bahan bakar berbasis etanol sebagai pengganti bensin konvensional.
Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan impor energi yang masih tinggi, sekaligus memanfaatkan sumber daya dalam negeri.
Arahan Presiden: Energi Berbasis Etanol Harus Berlanjut
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa Presiden RI, Prabowo Subianto, memberikan arahan agar program pengembangan etanol terus dijalankan secara konsisten.
“Arahan Bapak Presiden ini tidak boleh putus. Jika konsisten 10 tahun, kita bisa mandiri tanpa impor,” ujar Amran, Senin (30/3/2026).
Program ini diproyeksikan mampu menggantikan bahan bakar seperti Pertalite dan Pertamax secara bertahap.
Skema E20 hingga E100
Pemerintah merancang penggunaan campuran etanol sebesar 20 persen atau E20, yang berarti:
1. 20% etanol berbasis nabati
2. 80% bensin fosil
Ke depan, program ini bahkan ditargetkan berkembang hingga E100, yaitu penggunaan etanol murni sebagai bahan bakar.
Teknologi Kendaraan Sudah Mendukung
Amran menjelaskan bahwa teknologi kendaraan saat ini sudah memungkinkan penggunaan bahan bakar etanol melalui sistem Flexible Fuel Vehicle (FFV).
“Kendaraan bisa menggunakan 20 persen hingga 100 persen etanol, tergantung kebutuhan,” jelasnya.
Hal ini membuka peluang besar bagi transformasi energi di sektor transportasi.
Potensi Besar dari Sumber Daya Lokal
Salah satu kekuatan utama program ini adalah ketersediaan bahan baku dalam negeri, seperti:
1. Molases (tetes tebu)
2. Produk sampingan industri gula
Selama ini, bahan tersebut justru lebih banyak diekspor, padahal berpotensi besar untuk diolah menjadi energi alternatif.
Pemerintah juga akan melibatkan PT Perkebunan Nusantara dalam pengembangan bahan baku etanol.
Strategi Tekan Impor Energi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa implementasi E20 ditargetkan mulai tahun 2028.
Saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada impor bensin:
1. Produksi nasional: 14,27 juta kiloliter
2. Konsumsi: 37,3 juta kiloliter
3. mpor: sekitar 23,03 juta kiloliter
Kondisi ini mendorong pemerintah untuk mencari solusi jangka panjang.
Dari Ketahanan Pangan ke Kemandirian Energi
Pemerintah melihat pengembangan etanol sebagai kelanjutan dari keberhasilan sektor pertanian.
“Setelah pangan, kita beralih ke energi. Ini langkah strategis untuk kemandirian bangsa,” ujar Amran.
Jalan Panjang Menuju Energi Mandiri
Meski menjanjikan, program etanol bukan solusi instan. Dibutuhkan:
1. Konsistensi kebijakan
2. Kesiapan industri
3. Dukungan teknologi
Namun jika berjalan sesuai rencana, Indonesia berpotensi bertransformasi dari negara pengimpor menjadi negara mandiri energi.
Sumber : TRIBUNTRENDS.COM
Editor : Redaksi Olemah
Website : www.olemah.com
Diterbitkan : 31 Maret 2026

0 Komentar