Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Perang Suku Papua Dinilai Sudah Bergeser: “Dulu Soal Kehormatan, Kini Jadi Pasar Penderitaan”

JAYAPURA, OLEMAH.COM – Konflik perang suku yang terus terjadi di Papua, khususnya di wilayah pegunungan, dinilai telah mengalami perubahan besar dari makna aslinya sebagai bagian dari tradisi adat.

Sejumlah tokoh dan intelektual Papua menilai bahwa perang suku yang terjadi saat ini tidak lagi sepenuhnya murni sebagai warisan budaya leluhur, melainkan telah dipengaruhi berbagai kepentingan kekuasaan, politik, dan ekonomi.

Menurut pandangan tersebut, pada masa lalu perang suku lahir sebagai bagian dari hukum kehormatan, keseimbangan sosial, dan tanggung jawab kolektif dalam masyarakat adat.

Tradisi perang pada zaman dahulu disebut memiliki batas moral yang jelas, dipimpin langsung oleh tetua adat, serta tunduk pada aturan leluhur yang dihormati bersama.

Bahkan di tengah konflik, masyarakat adat masih menjaga nilai kemanusiaan dan membuka ruang perdamaian melalui mekanisme adat.

“Dulu Dipimpin Adat, Sekarang Berubah Wajah”

Dalam penjelasannya disebutkan bahwa dahulu perang adat tidak berlangsung tanpa aturan.

Konflik hanya dilakukan dalam batas tertentu dan tetap menghormati nilai kemanusiaan, kehormatan suku, serta masa depan bersama.

Namun kondisi tersebut dinilai berbeda dengan situasi yang terjadi sekarang.

Perang antar suku di Papua disebut telah berubah wajah dan tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh mekanisme adat murni.

Konflik Disebut Masuk ke Kepentingan Politik dan Kekuasaan

Analisis tersebut menyoroti bahwa konflik yang terjadi saat ini perlahan telah dimasuki kepentingan kekuasaan kolonial dan permainan elite tertentu.

Ketika setiap perdamaian selalu bergantung pada uang pemerintah, konflik disebut perlahan berubah menjadi “pasar penderitaan”.

“Darah rakyat menjadi alat tawar. Kematian menjadi angka proyek. Luka masyarakat berubah menjadi komoditas politik,” demikian isi pandangan tersebut.

“Perdamaian Jangan Menunggu Uang Negara”

Dalam pandangan itu disebutkan bahwa kolonialisme bekerja dengan membiarkan rakyat saling bentrok, lalu hadir sebagai penengah sambil memperluas kontrol dan ketergantungan ekonomi.

Masyarakat kemudian diarahkan untuk percaya bahwa perdamaian hanya mungkin terjadi apabila ada uang dari negara.

Padahal menurut nilai adat leluhur Papua, perdamaian dahulu dapat diwujudkan melalui:

Rekonsiliasi adat

Pembayaran adat

Kesadaran menjaga masa depan bersama

Penghormatan terhadap hukum adat

Muncul Mentalitas Konflik Demi Keuntungan

Yang paling berbahaya, menurut pandangan tersebut, adalah munculnya mentalitas baru di tengah masyarakat bahwa konflik dipelihara karena menghadirkan keuntungan tertentu.

Disebutkan bahwa:

Semakin besar perang, semakin besar perhatian negara

Semakin panjang konflik, semakin banyak uang masuk

Semakin dalam luka rakyat, semakin luas ruang permainan elite

Kondisi itu dinilai menjadi ancaman serius bagi masa depan orang Papua sendiri.

Seruan Kesadaran untuk Orang Papua

Dalam penutupnya, masyarakat Papua diajak menyadari bahwa apabila perang terus terjadi antar sesama orang Papua, maka yang hancur bukan kekuasaan kolonial, melainkan tubuh bangsa Papua sendiri.

“Kekuasaan kolonial tetap berdiri kuat sambil menyaksikan rakyat Papua saling baku hantam satu sama lain.”

Pesan tersebut menjadi refleksi mendalam agar masyarakat Papua kembali mengedepankan persatuan, rekonsiliasi adat, dan perdamaian demi menyelamatkan generasi masa depan.

Perang suku di Papua kini menjadi perhatian serius banyak pihak. Berbagai kalangan menilai perlunya penguatan kembali nilai adat, rekonsiliasi budaya, dan kesadaran kolektif agar konflik tidak terus menghancurkan masyarakat Papua sendiri.


Sumber : V.FY.

Editor : Redaksi Olemah

Website : www.olemah.com

Diterbitkan : 16 Mei 2026

Posting Komentar

0 Komentar