Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Masyarakat Mee Tolak DOB Kabupaten Moni di Paniai: “Tanah Ulayat Jangan Dipecah”

PANIAI, OLEMAH.COM – Masyarakat Mee dari wilayah Yeimo, Dogopia, Magai, dan Yatipai menyampaikan penolakan terhadap rencana pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Moni di wilayah Kabupaten Paniai.

Penolakan tersebut disampaikan menyusul aksi Mimbar Bebas Solidaritas Mahasiswa Indonesia-Kota Pelajar (SMI-KP) Se-Indonesia yang berlangsung di Pasar Karang, Nabire, Senin (18/5/2026).

Dalam aksi tersebut, mahasiswa dan masyarakat menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak yang dinilai akan muncul akibat pemekaran DOB baru di wilayah Paniai.

Soroti Dampak DOB terhadap Tanah Adat

Mahasiswa dalam aksi tersebut menyoroti sejumlah persoalan yang dikhawatirkan terjadi apabila DOB Kabupaten Moni dibentuk.

Beberapa hal yang disampaikan antara lain:

Ekspansi investasi

Penggusuran hak ulayat masyarakat adat

Arus transmigrasi

Militerisasi

Kerusakan lingkungan hidup

Mereka menilai kondisi tersebut dapat mengancam keberlangsungan ekologi, ekosistem, iklim, dan kehidupan masyarakat adat di wilayah Paniai.

“Tanah Ini Titipan Leluhur”

Koordinator aksi, Arnold Pigai, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masa depan tanah adat dan masyarakat Papua.

“Tanah ini adalah titipan leluhur. Kehadiran masyarakat dalam aksi ini merupakan bentuk solidaritas dan rasa cinta terhadap tanah dan masa depan Paniai,” ujarnya dalam orasi.

Situasi Sempat Memanas

Sebelum aksi berlangsung, situasi dilaporkan sempat mengalami ketegangan.

Mahasiswa penghuni asrama mengaku mengalami intimidasi dan teror dari pihak tidak dikenal pada Minggu malam (17/5/2026).

Selain itu, disebutkan bahwa sejumlah pihak sempat melakukan audiensi dengan penghuni asrama dan menyarankan agar aksi diganti dengan jumpa pers karena adanya informasi tentang kelompok yang berencana membubarkan aksi.

Aparat Gabungan Turun Amankan Lokasi

Sekitar pukul 08.30 WIT, aparat gabungan TNI–Polri tiba di lokasi untuk melakukan pengamanan.

Aparat disebut membawa perlengkapan pengamanan seperti:

Kendaraan Dalmas

Gas air mata

Tameng

Perlengkapan pengamanan lainnya

Situasi memanas sekitar pukul 09.43 WIT ketika dua kendaraan yang disebut membawa massa pendukung DOB Moni tiba di lokasi aksi.

Menurut laporan, massa tersebut membubarkan aksi dengan merobek spanduk dan memutus tali komando tanpa negosiasi dengan koordinator aksi.

Akibat kejadian itu, peserta aksi akhirnya membubarkan diri dan kembali ke Sekretariat Honai Yamewa Paniai di wilayah Xbobo.

Masyarakat Mee Tegaskan Wilayah Itu Tanah Ulayat

Masyarakat Mee dari Yeimo, Magai, Yatipai, dan Dogopia menegaskan bahwa wilayah yang diwacanakan menjadi Kabupaten Moni merupakan bagian dari tanah ulayat masyarakat Mee.

Karena itu, mereka menyatakan penolakan terhadap pembentukan DOB tersebut.

“Wilayah itu bukan hanya dihuni suku Moni. Tanah ulayat daerah tersebut adalah wilayah Mee,” ujar salah satu perwakilan masyarakat.

Mereka juga menilai Kabupaten Paniai sendiri belum sepenuhnya berkembang sehingga pembentukan DOB baru dianggap belum layak dilakukan.

Soroti Kesiapan SDM

Selain persoalan tanah adat, masyarakat juga menilai kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi hal penting yang harus dipertimbangkan sebelum mendorong pembentukan daerah baru.

Mereka berharap pemerintah dapat lebih mendengarkan aspirasi masyarakat adat sebelum mengambil keputusan terkait DOB.

Penolakan terhadap rencana DOB Kabupaten Moni menunjukkan masih kuatnya perhatian masyarakat adat Papua terhadap isu tanah ulayat, lingkungan hidup, dan masa depan pembangunan daerah. Berbagai pihak kini berharap dialog damai dapat dilakukan agar aspirasi masyarakat tetap dihormati.


Sumber : Yosua Maiseni

Editor : Redaksi Olemah

Website : www.olemah.com

Diterbitkan : 17 Mei 2026

Posting Komentar

0 Komentar