Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Mahasiswa STT Yoas Pigai Tewas Tragis di Nabire, Keluarga Pertanyakan Penundaan Informasi 30 Jam

NABIRE, Olemah.com — Kematian tragis mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) Walter Pos Nabire, Yoas Pigai, pada Jumat (28/11/2025), memicu gelombang protes dan tuntutan transparansi dari keluarga maupun masyarakat. Insiden yang terjadi di kawasan AURI Nabire itu diduga melibatkan anggota kepolisian, hingga kini menyisakan banyak pertanyaan.

Jenazah Yoas Pigai telah diserahkan kepada keluarga pada Sabtu (29/11/2025), namun keluarga menilai terdapat sejumlah kejanggalan, terutama terkait keterlambatan informasi selama lebih dari 30 jam sejak insiden terjadi.

Kronologi Versi Saksi Mata: Dihadang, Ditendang, dan Jatuh

Berdasarkan kesaksian teman yang membonceng Yoas Pigai, insiden terjadi sekitar pukul 17.00 WIT setelah keduanya pulang dari acara syukuran wisudawan di Kalibobo.

Saksi menyebut bahwa mereka berada di belakang rombongan konvoi pemuda ketika tiba-tiba dihadang oleh kendaraan aparat kepolisian.

“Kami dihadang mobil truk polisi dari depan dan mobil polisi dari belakang. Lalu korban (Yoas) dan saya ditendang oleh polisi hingga kami jatuh," ujar saksi.

Saksi mengaku berhasil kabur meski mengalami luka di kaki dan lutut. Namun Yoas Pigai tertinggal di lokasi dan kemudian ditemukan sudah tidak bernyawa.

Penundaan Informasi 30 Jam, Keluarga: “Ada Kejanggalan Besar”

Peristiwa terjadi Jumat sore, namun keluarga baru mendapatkan informasi resmi pada Sabtu pukul 14.00 WIT.

“Kami heran, mengapa kematian anak kami baru diberitahukan setelah lebih dari 30 jam?” ungkap perwakilan keluarga.

Keluarga menegaskan Yoas Pigai adalah mahasiswa teologi yang dikenal baik, tidak terlibat miras, judi, ataupun kelompok kriminal lainnya.

Kondisi Jenazah Butuh Investigasi Forensik

Foto jenazah yang diterima keluarga menunjukkan adanya busa putih di hidung Yoas Pigai. Kondisi tersebut membuat keluarga meminta dilakukan pemeriksaan forensik untuk memastikan penyebab kematian — apakah akibat benturan, kekerasan, atau faktor lainnya.

Kapolres Nabire Jelaskan Kronologi

Kapolres Nabire membenarkan adanya insiden yang melibatkan anggotanya dan menyampaikan bahwa satu anggota polisi kini dalam kondisi kritis akibat kejadian tersebut.

Pihak kepolisian berjanji akan terbuka mengenai hasil pemeriksaan, termasuk:

1. alur kejadian di TKP,

2. kondisi korban,

3. dan posisi anggota polisi yang diduga terlibat.

Kapolres menyatakan bahwa penyelidikan internal sedang berjalan dan akan dilanjutkan dengan pendalaman oleh Propam.

Amnesty International Indonesia: “Harus Ada Investigasi Independen”

Amnesty International Indonesia (AII) sebelumnya telah merespons dengan tegas insiden ini.

“Serangan atau tindakan yang menewaskan warga sipil harus segera diinvestigasi secara cepat, independen, dan transparan,” ujar Direktur Eksekutif AII, Usman Hamid.

Amnesty juga mendesak kepolisian untuk membuka identitas pihak yang bertanggung jawab sekaligus memastikan tidak ada impunitas dalam kasus ini.

Keluarga Desak Kapolda Bentuk Tim Pencari Fakta

Keluarga Yoas Pigai menyampaikan tiga tuntutan utama:

Investigasi independen untuk mengusut dugaan kekerasan oleh aparat.

Transparansi penyebab kematian, termasuk autopsi resmi.

Proses hukum terbuka bagi siapa pun yang terbukti melanggar prosedur.

“Kami ingin keadilan bagi Yoas. Ia mati bukan karena penyakit, tetapi karena tindakan yang harus diungkap,” tegas keluarga.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kejadian memilukan yang menimpa warga sipil di Papua Tengah. Keluarga kini berharap proses hukum benar-benar berjalan, tanpa perlindungan bagi siapa pun.

Olemah.com akan terus memantau perkembangan kasus ini.


Sumber : Gobai

Editor : Redaksi Olemah

Website : www.olemah.com

Diterbitkan : 01 Desember 2025

Posting Komentar

0 Komentar